pesta

Secara filosofis, asal-usul pesta dapat ditelusuri sejak peradaban Yunani kuno. Dalam masyarakat Yunani, pesta (symposion) bukan hanya acara makan dan minum, melainkan ruang perjumpaan intelektual, seni, dan refleksi tentang kehidupan.

Para filsuf seperti Plato menggambarkan pesta sebagai wadah dialog untuk mencari kebenaran, membangun persahabatan, dan merayakan keindahan hidup. Bagi masyarakat Yunani, pesta merupakan simbol harmoni antara manusia, alam, dan para dewa yang diyakini memberi keberkahan kepada kehidupan mereka.

Memasuki era Islam, makna pesta mengalami transformasi yang lebih spiritual dan etis. Islam tidak menolak perayaan, tetapi mengarahkannya agar menjadi sarana syukur kepada Allah dan memperkuat persaudaraan sesama manusia. Tradisi walimah dalam pernikahan, jamuan pada hari raya, serta berbagai bentuk sedekah dan berbagi makanan menunjukkan bahwa pesta dalam pandangan Islam bukan sekadar hiburan, melainkan manifestasi rasa syukur, kedermawanan, dan kebersamaan sosial. Nilai utama yang ditekankan bukan kemewahan, tetapi kebermanfaatan dan kebahagiaan yang dapat dirasakan bersama. Sebagai manifestasi dari ibadah sosial.

Dengan demikian, secara filosofis pesta sejak zaman Yunani hingga masa Islam memiliki benang merah yang sama, yaitu upaya manusia merayakan makna kehidupan secara kolektif. Jika dalam tradisi Yunani pesta menjadi ruang dialog, estetika, dan penghormatan kepada kekuatan yang dianggap suci, maka dalam Islam pesta menjadi sarana ibadah sosial yang menghubungkan kebahagiaan pribadi dengan kepedulian terhadap sesama.

- Poster Iklan -

Pesta pada hakikatnya adalah perayaan kemanusiaan, sebuah momen ketika manusia berhenti sejenak dari rutinitas untuk mensyukuri kehidupan, mempererat ikatan sosial, dan meneguhkan harapan akan masa depan yang lebih baik.

Baru-baru ini baik di media sosial maupun di media mainstream beragam berita tentang pemutaran film pesta babi sangat hilir mudik di aplikasi tiktok, thread, facebook maupun instragram termasuk juga berita sinisme tentang pesta para koruptor yang ditangkapi oleh kejaksaan agung maupun KPK.

Belakangan juga viral sarkasme yang lainnya, mulai dari berita tentang premanisme, tentang proyek food estate, tentang program strategis lainnya seperti makan gratis, koperasi merah putih maupun sekolah rakyat. Tak sedikit publik memberikan penilaian bahwa program dimaksud tak ubahnya adalah manifestasi dari sinisme pesta yang puncaknya dengan penetapan status tersangka bagi para petinggi BGN.

Padahal filosofi pesta sebagimana pada alinea awal dalam pembukaan tulisan ini adalah bagian dari kesenangan dan adanya rasa syukur atas sebuah pencapaian atau ucapan terima kasih. Namun mulai dari judul film pesta babi, menolak punah hingga sinisme berita pesta koruptor adalah bentuk lain dari kecewaan publik yang tiada tara melihat ibu pertiwi semakin ringkih.

Di negeri yang masih menyimpan banyak luka, ketika sebagian rakyat berjuang menaklukkan harga kebutuhan yang terus menanjak, mencari pekerjaan yang kian sulit, dan berharap pada layanan publik yang lebih manusiawi, kekuasaan justru kerap tampil dalam gemerlap seremoni dan pesta-pesta simbolik. Panggung-panggung kebesaran didirikan, pidato-pidato kemenangan dikumandangkan, sementara dari sudut-sudut kampung masih terdengar ratapan masyarakat yang menunggu hadirnya sila kelima dari Pancasila yaitu keadilan sosial benar-benar ada.

Kini, seolah-olah kemeriahan telah menjadi tujuan, bukan menjadi alat, dan tepuk tangan dianggap lebih penting daripada suara rakyat yang belakangan ini mulai banyak berteriak kencang. Di berbagai daerah, para mahasiswa telah mengangkat megaphone dalam aksi-aksi demonstrasinya.

Di tengah himpitan ekonomi yang semakin berat, rakyat menyaksikan sebuah ironi yang menyakitkan. Banyak pejabat publik—dari menteri, gubernur, hingga bupati—lebih sibuk memburu perhatian di media sosial daripada menuntaskan persoalan kemiskinan yang nyata di depan mata. Ruang-ruang digital dipenuhi konten pencitraan, padahal masih banyak rakyat yang kesulitan. Ketika nilai dolar terus naik, BBM naik, dan otomatis kebutuhan pokok menjadi mahal. Keadaan ini telah menambah kecemasan yang luar biasa bagi masyarakat.

Seorang pemimpin sejatinya bukan sekadar pengelola kekuasaan, melainkan penuntun moral bagi masyarakat. Namun yang tampak hari ini justru sebaliknya.

Ketika kesederhanaan seharusnya menjadi teladan, yang dipertontonkan adalah kemewahan dan kegemaran berkelililing tempat sambil memamerkannya di media sosial.

Bangsa ini tidak kekurangan pemimpin yang pandai berbicara. Kita membutuhkan pemimpin yang mampu menghadirkan empati, keadilan, dan keberanian moral untuk berdiri bersama rakyat yang sedang berjuang.

Berhentilah menjadi pemimpin yang demagog, yang lebih sibuk mengejar tepuk tangan daripada menghadirkan perubahan nyata. Sejarah tidak mencatat berapa banyak sorak-sorai yang mengiringi seorang penguasa, melainkan seberapa besar manfaat yang ditinggalkannya bagi rakyat. Jabatan bukanlah panggung pertunjukan, melainkan amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban.

Yang dicatat oleh ingatan publik adalah kemuliaan seorang pemimpin tidak diukur dari banyaknya sorak-sorai yang mengiringinya, melainkan dari keberaniannya berdiri bersama rakyat saat masa sulit. Sebagaimana diingatkan Muhammad Iqbal, “Bangsa-bangsa dilahirkan dalam hati para penyair; mereka tumbuh dan berkembang dalam tangan para negarawan, lalu mati di tangan para politisi.”

Semoga negeri ini tidak kekurangan negarawan yang merawat harapan rakyat, dan terhindar dari mereka yang menjadikan kekuasaan sekadar alat untuk memuaskan diri dan kelompoknya.

- Cetak Buku dan PDF-

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here