pasar tradisional

Rasanya kalau pun kita dipaksa untuk membuka memori kembali tentang keterlibatan  dengan pasar tradisional, akan ada cerita yang membawa kesan tersendiri. Muncul kesan bahwa pasar tradisional itu ramai, murah, semrawut, tawar-menawar, ibu-ibu, belanja sayur dan lain-lain. Dari tahun ke tahun nama besar pasar tradisional masih tetap mendapat tempat tersendiri di kalangan baby boomers dan generasi X. Kita masih ingat bagaimana denyut kehidupan pasar tradisional dimulai saat yang lain masih tidur nyenyak, jauh sebelum fajar menampakkan cahaya terang benderangnya.

Ketika suara-suara pedagang bersautan dengan suara pembeli, terdengar tawa yang nyaring, suara tawar menawar dan hamparan komoditas yang diperjualbelikan. Suara-suara yang saat ini kita rindukan, hingga terbersit satu pertanyaan “sampai kapan pasar tradisional ini mampu bertahan di tengah-tengah gempuran pasar modern atau juga pasar online yang menyuguhkan berbagai kemudahan?”. Jawabannya tidak sederhana, “bertahan” atau “tumbang”, dan ternyata semakin hari geliat perubahan yang dilakukan oleh pasar tradisional semakin Nampak, salah satunya adalah bergeser menjadi destinasi wisata kuliner. 

Beberapa waktu sebelumnya, inovasi yang dilakukan pasar tradisional adalah kemudahan pembayaran (cardless), transaksi jual beli terdukung oleh handpone melalui pesan di whatsapp hingga penataan lapak yang lebih modern dan bersih. Namun perubahan yang dilakukan oleh pasar tradisional ini harus berpacu dengan pesatnya lapak online yang juga menawarkan berbagai macam komoditas kebutuhan masyarakat dan tersaji melalui perangkat teknologi.

Perubahan yang terjadi di pasar tradisional saat ini menjadi kejutan karena menerpa pasar tradisional di berbagai daerah. Meskipun perubahan ini akhirnya menggiatkan masyarakat untuk kembali ke pasar, namun komoditas yang diperjualbelikan sudah berbeda.  

- Poster Iklan -

Pasar memiliki fungsi penting dalam perekonomian, meliputi fungsi distribusi, ekonomi, promosi, produksi hingga fungsi sosial. Pasar menjadi tempat interaksi sosial yang mempertemukan masyarakat untuk membangun komunikasi lebih berwarna. Di pasar tradisional, kita akan menemukan identitas budaya bangsa dari setiap wilayah, karena aspek lokalitas yang terbangun dengan kuat. Memperlihatkan cara berpikir, cara bersikap serta tingkah laku masyarakat setempat hingga wejudkan ikatan emosional. Tingkah laku natural yang diperlihatkan pedagang adalah totalitas dari bentuk komunikasi verbal dan non-verbal.

Kompleksitas keberadaan pasar tradisional dengan dinamika yang semakin kompleks sudah membentuk branding tersendiri. Wajah-wajah terlihat bahagia ketika mendapatkan barang dengan harga yang murah atau juga mendapatkan bonus jika membeli dalam jumlah banyak. Kenangan akan keberadaan pasar yang pada moment tertentu, misalnya pada bulan Ramadhan memperlihatkan bahwa pagi hari pasar sudah penuh sesak dengan pembeli, komoditas yang dipasarkan  berbeda dibandingkan dengan hari-hari biasa. Meskipun harga sedikit lebih mahal, namun tidak mematahkan semangat untuk belanja.   

Kangen dengan Sapaan Pedagang

Sapaan pedagang yang khas, khususnya di Jawa tidak jauh-jauh dari kata “tumbas nopo (belanja apa)?, “monggo mampir (mari kesini)”, “sesuk maneh” (besok lagi) dan kata-kata yang hampir setiap saat kita dengar, baik antar pedagang maupun pedagang dengan pembeli.

Pasar setidaknya dipahami bukan semata sebagai tempat jual beli atau pertukaran barang dan uang, di dalamnya sarat dengan negosiasi, humor, ekspresi bebas hingga membangun kedekatan yang memunculkan status “langganan”.

Saat ini pasar tradisional mampu menciptakan ruang komunikasi sosial yang kompleks. Interaksi penjual dan pembeli dengan pilihan kata yang jelas dan to the point, memperbincangkan tentang keluarga, menumbuhkan kepercayaan yang mampu bertahan lama dan salah satu contohnya adalah transaksi jual beli tidak harus saat itu dibayar lunas.

Catatan sederhana pada secarik kertas sebagai bukti transaksi diberikan tanpa syarat, meskipun belum ada uang, namun kepemilikan barang bisa beralih dengan cepat dan akad jual beli sah dilakukan. Narasi sapaan ketika pembeli datang ke lapak disertai dengan senyum lebar selalu membawa cerita yang akan berlanjut pada hari berikutnya. Sapaan dan komunikasi personal yang dilakukan dengan pembeli seakan menghapus rasa lelah.

Inilah keunikan yang tercipta di ruang-ruang sosial di pasar tradisional. Satu hal lagi yang patut dibanggakan bahwa kepercayaan diciptakan satu sama lain, tidak segan-segan pedagang menitipkan barang dagangan kepada pedagang di lapak sebelah ketika ingin  melaksanakan ibadah atau keliling mencari dagangan untuk menambah barang di lapak.

Kata-kata “titip sek yoo” (titip dulu yaa), sudah merupakan kata sakti antar pedagang. Tidak ada rasa takut dagangan akan hilang. Di emperan toko malah terlihat bahwa teritori atau juga batas antara pedagang satu dengan yang lain terkadang hampir tidak terlihat nyata. Tanda kepemilikan lapak, ditandai dengan meletakkan kertas, plastik, atau komoditas yang diperdagangkan secara bebas. Gambaran ini terlihat nyata dan menjadikan pasar tradisional sebagai pasar yang mendukung konsep persaudaraan.

Ketertiban pedagang merupakan buah dari perilaku disiplin yang diterapkan sehari-hari. Satu sama lain tidak segan memberikan dagangan untuk dibeli dan dijual kembali di lokasi yang sama. Relasi yang dibangun membentuk pola-pola yang lebih personal, sehingga identik dengan konsep intimate relationship. Komunikasi yang dibangun dan dipelihara dapat bertahan lama sehingga para pedagang yang satu dengan yang lain seperti saudara dan teman baik. Saling membantu, berbagi, adalah aktivitas pedagang yang melekat pada keberadaan pasar tradisional.  

Ketika Lapak Sayur Menjadi Destinasi Kuliner Kekinian

Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 112 Tahun 2007 tentang Penataan dan Pembinaan Pasar Tradisional, Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern memberikan definisi bahwa pasar tradisional adalah pasar yang dibangun dan dikelola oleh Pemerintah, Pemerintah Daerah, Swasta, Badan Usaha Milik Negara dan Badan Usaha Milik Daerah termasuk Kerjasama dengan swasta dengan tempat usaha berupa toko, kios, los dan tenda yang dimiliki/dikelola oleh pedagang kecil, menengah, swadaya masyarakat atau koperasi dengan usaha skala kecil, menengah, swadaya masyarakat atau koperasi dengan usaha skala kecil dan dengan proses jual beli barang dagangan melalui tawar menawar. 

Begitu kuat identitas pasar tradisional dengan segala keunikannya menjadi kebangaan bagi masyarakat, yang hingga saat ini masih menggantungkan hidupnya pada pasar tradisional. Jika kemudian yang muncul adalah pergeseran lapak sayur, lapak daging, kios sembako menjadi spot yang lebih kekinian, menyajikan jajanan yang digemari oleh masyarakat sepertinya sudah menjadi fenomena yang bukan sekedar tren sesaat.

Komoditas yang berubah ini kadang memunculkan pertanyaan, apakah kios tersebut disewakan oleh pemiliknya atau dijual? Belum sempat menjawab pertanyaan tersebut, muncul pertanyaan lagi, siapa yang pada akhirnya mengatur perubahan komoditas yang diperjualbelikan? Semuanya berjalan seperti air mengalir.  Realitas ini juga dapat kita jumpai di kota-kota besar di Indonesia. Pasar tradisional bertransformasi menjadi destinasi wisata kuliner baru yang mampu merebut perhatian masyarakat, dan pengunjung bukan lagi generasi baby boomers, namun sudah dimenangkan oleh generasi muda . Kemasan baru ini memang tidak menjadikan pasar tradisional kehilangan nyawa, karena di beberapa kios masih memperjualbelikan komoditas sayur hingga sembako dengan tampilan yang lebih modern. Inovasi atau juga terobosan yang dilakukan oleh pedagang menjadi realitas yang menarik untuk diperbincangkan lebih lanjut. 

Kunci transformasi tidak sebatas pada perubahan fisik semata, namun terwujudnya pergeseran “positioning” dari tempat untuk “memenuhi kebutuhan” bergeser kepada “tempat mencari pengalaman baru”. Pergeseran pada “mencari harga murah” menjadi “spot foto” yang dapat dibagikan ke media sosial serta unggahan status yang akhirnya memunculkan branding tersendiri. Harga bukan lagi masalah bagi pembeli, karena yang dicari adalah nikmatnya rasa makanan, di mana memungkinkan terjadinya pembelian berulang. Ada istilah rasa mengalahkan segalanya, sehingga lapak-lapak penjual jajanan setiap hari selalu ramai pengunjung. Bukan lagi teriakan penjual “beli apa?” tetapi sudah berganti ke “antri yaa, agak lama”.

Branding kuliner yang begitu kuat ini berada pada lingkaran yang saling mendukung. Pihak-pihak yang terlibat juga masih sama, penjual, pembeli hingga tukang parkir, adalah sosok yang memanfaatkan keberadaan pasar tradisional dengan baik. Jadi yang perlu kita pikirkan bersama, apakah kita bahagia dengan perubahan yang terjadi di pasar tradisional? Senyum hebat terpancar dari pedagang yang setiap hari mampu membawa pundi-pundi rejeki yang akan diputar menjadi modal untuk jualan keesokan harinya dan untuk memenuhi kebutuhan lainnya. 

Salah satu daya tarik yang disuguhkan pasar kuliner ini adalah ragam pilihan makanan yang tersedia. Awalnya pengunjung akan melihat-lihat terlebih dahulu, jika ada yang tertarik akan langsung membeli. Pasar tradisional yang telah menjelma menjadi pasar makanan ini menyajikan berbagai jajanan tradisional seperti onde-onde, kue lumpur, gorengan dan masih banyak kue pasar lainnya, dapat mempertahankan cita rasa yang khas, sehingga sekali gigit, sensasi rasa akan membawa kita ke jaman dahulu. Makanan  tersebut adalah jajajan yang mungkin hanya kita konsumsi pada moment tertentu saja. Namun sekarang jajanan ini dapat  bersanding dengan menu jajanan yang lebih kekinian yang digemari anak muda, seperti bakso goreng, kentang goreng, aneka olahan mie pedas yang memang dikemas dengan menarik.  

Akhirnya kangen dengan pasar lama, adalah suatu hal yang lumrah. Perubahan pada komoditas yang diperjual belikan adalah realitas yang menjadikan branding pasar tradisional menjadi terbarukan. Jika ada pertanyaan ingin membeli apa ke pasar? dan jawabannya adalah jajanan  maka harus ditanggapi dengan senyum dan kata “titip yaa”. Tidak ada habisnya memperbincangkan pasar tradisional, yang dibutuhkan adalah pemikiran-pemikiran baru yang berkontribusi membentuk citra positif pasar tradisional sehingga masyarakat tetap memiliki relasi yang baik.

- Cetak Buku dan PDF-

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here