kiamat

“Akal budi menuntut agar eksploitasi terhadap manusia dan ekspropriasi (perampasan) terhadap alam dihentikan demi mencegah kecenderungan pemusnahan massal (exterminism) di zaman kita.”  – John Bellamy Foster

Alarm Ekologis

Kutipan tersebut bukan sekadar seruan moral yang ‘membara’, melainkan sebuah alarm darurat sosiologis yang mendesak. Di era sekarang, ketika krisis iklim global kian nyata serta potensi dan ancaman konflik geopolitik semakin meningkat, kita dihadapkan pada realitas pahit bahwa sistem kapitalisme monopoli global telah membawa kemanusiaan ke ambang pemusnahan massal atau exterminism. Istilah yang awalnya dicetuskan oleh E.P. Thompson ini kini diaktualisasikan kembali oleh John Bellamy Foster dalam berbagai artikelnya di Monthly Review untuk menggambarkan bagaimana dorongan destruktif modal mengancam kelangsungan hidup kita.

Logika akumulasi kapital tanpa batas ini beroperasi dengan memeras tenaga kerja sekaligus merampas kekayaan alam secara brutal dari belahan bumi selatan. Ini demi menyokong pusat-pusat kekuasaan imperialis—sebuah pola yang oleh Foster dan Brett Clark dalam The Ecological Rift (2010) disebut sebagai imperialisme ekologis. Akibatnya, relasi timbal balik yang setara antara manusia dan alam pun terputus. 

Melalui karya monumental seperti Marx’s Ecology (2000), Foster menyerukan agar kita merebut kembali akal budi. Kerangka berpikir ini menolak mentah-mentah pemisahan rigid antara masyarakat dan alam yang kerap diagungkan oleh dualisme Cartesian. Melalui Economic and Philosophic Manuscripts of 1844 karya Marx, alam dipahami secara mendalam sebagai tubuh anorganik manusia (man’s inorganic body) yang terus berinteraksi dengan kita melalui aktivitas kerja. 

- Poster Iklan -

Selama ini mungkin kita disuguhi narasi bahwa krisis iklim adalah dosa kolektif umat manusia. Narasi “Antroposen” ini seolah-olah menyamakan tanggung jawab seorang petani gurem dengan korporasi minyak raksasa. Namun, jika kita mengikis permukaan narasi tersebut, kita akan menemukan realitas yang jauh lebih timpang. Kita mencermati bahwa musuh sejati lingkungan bukanlah kolektivitas umat manusia secara umum. Sebaliknya, biang keladi utamanya adalah alur-gerak dari akumulasi kapital global, sebuah kondisi yang oleh sosiolog lingkungan seperti Jason W. Moore lebih tepat diistilahkan sebagai Capitalocene. Analisis rasional ini sangat krusial karena ia menyingkap jalur-jalur imperialisme dan rantai pasok global, memungkinkan kita untuk memetakan dari mana perampasan alam terjadi dan komunitas grassroot (akar rumput) mana yang paling dirugikan.

Rekonsiliasi Akal Budi dan Gerakan Sosial

Menyelamatkan bumi ini tidak akan pernah tercapai lewat dekonstruksi teks-teks akademis atau sekadar perubahan gaya hidup individual. Tugas historis kita adalah menerjemahkan pemahaman rasional tersebut menjadi gerakan sosial-ekologis yang terorganisasi secara nyata. Tentu saja akal budi manusia bukanlah predator bagi bumi. Ia justru merupakan alat terbaik untuk mendiagnosis penyakit sistemik yang sedang merusak planet ini. Termasuk yang lebih krusial, ia adalah satu-satunya instrumen yang mampu merancang obat penawarnya. 

Selama ini, kita cenderung keliru menyalahkan sains, teknologi, dan modernitas sebagai dalang utama dari krisis ekologis yang melanda. Padahal, akar masalahnya bukan terletak pada ketajaman akal manusia, melainkan pada ke mana kompas moral yang diarahkan. Ketika kecerdasan hanya menuruti keserakahan jangka pendek untuk memaksakan pertumbuhan tanpa batas (grow-or-die), ia memang mampu berubah menjadi parasit yang merusak. Namun, ketika dipandu oleh kesadaran ekologis yang mendalam, akal budi justru menjelma menjadi sistem imun yang tangguh bagi planet ini.

Ini tidak bermakna kita harus mundur ke masa lalu yang primitif. Sebaliknya, kita justru membutuhkan lompatan intelektual untuk membalikkan arah peradaban. Jika akal budi manusia mampu mendeteksi lubang ozon dan menghitung ambang batas planet (planetary boundaries)—seperti dirumuskan oleh Johan Rockström dkk. di Stockholm Resilience Centre—dengan presisi tinggi, maka instrumen yang sama juga memiliki kapasitas untuk menciptakan sistem sirkular yang mengembalikan nutrisi dan keseimbangan ke alam liar.

Transisi besar ini menuntut kita untuk melangkah lebih jauh dari sekadar konsep keberlanjutan (sustainability) pasif yang kini banyak dimanipulasi sebagai komoditas greenwashing korporasi. Kita hendaknya bergeser menuju tindakan regeneratif yang secara aktif memulihkan ekosistem, mengubah teknologi yang tadinya eksploitatif menjadi alat penyembuh yang adaptif. Menjadi regeneratif bukan bermakna meninggalkan segala pencapaian ilmiah. Sains dan teknologi bukanlah musuh ekologi; kesalahan terbesar adalah memprogram teknologi tersebut untuk melayani keserakahan. Kecerdasan buatan hingga rekayasa material mutakhir memiliki potensi luar biasa jika dipandu oleh etika yang tepat. Kita dapat menggunakan algoritma tingkat lanjut bukan untuk mencari titik minyak bumi terakhir, melainkan untuk memetakan degradasi terumbu karang secara presisi dan mempercepat pemulihannya.

Krisis ekologis hari ini adalah refleksi dari krisis spiritual dan intelektual yang mendalam. Mengukur kemakmuran sebuah bangsa hanya dari pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) yang mengabaikan kehancuran alam adalah bentuk kenaifan struktural yang akut. Situasi-kondisi ini menciptakan asimetri dampak. Kelompok elit yang meraup keuntungan terbesar dari industri ekstraktif memiliki benteng kapital yang kokoh untuk melindungi diri mereka dari krisis ekologis. 

Sementara itu, masyarakat adat, petani kecil, dan kaum papa perkotaan dipaksa berada di garis depan untuk menanggung bencana hidrometeorologi, kegagalan panen, serta krisis kesehatan akibat polusi. Pada titik inilah krisis lingkungan menampakkan wujud aslinya sebagai ketidakadilan sosial sistemik; di mana ruang hidup kelompok rentan ditumbalkan demi akumulasi kekayaan segelintir orang. Ketimpangan ini bukan sekadar dampak sampingan dari perubahan iklim, melainkan hasil tata kelola struktural yang menaruh keuntungan material di atas keselamatan manusia.

- Cetak Buku dan PDF-
Previous articlePESTA
Mochamad Chazienul Ulum
Mochamad Chazienul Ulum adalah penulis lepas yang lahir di Surabaya dan hingga kini berprofesi sebagai dosen di Universitas Brawijaya. Aktif dalam kegiatan Tridharma PT dan telah menghasilkan beberapa buku (referensi). Saat ini domisili di Merjosari, Kota Malang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here