Pronojiwo

Sore di Pronojiwo datang perlahan. Kabut tipis menggantung di sela kebun salak, udara dingin lereng Semeru mulai turun. Di Dusun Seriti, Desa Sumberurip, Kecamatan Pronojiwo, Kabupaten Lumajang, saya menemui seorang karib lama, sosok di balik destinasi wisata yang namanya kini akrab di linimasa banyak orang: Teras Semeru.

Seorang pria berperawakan bersahaja menyambut dengan senyum hangat, kopyah hitam menjadi ciri khasnya. Dialah Muhammad Syafi’i, yang lebih dikenal warga sekitar dengan sapaan Cak Syafi’i. Di balik kesederhanaannya, tersimpan cerita tentang bagaimana sebuah ketidaksengajaan bisa berubah menjadi berkah bagi satu desa.

Nama Teras Semeru makin sering muncul di media sosial, terutama berkat jalan setapak di tengah sawah yang seolah berujung tepat di kaki Gunung Semeru. Namun jarang orang tahu, tempat ini lahir bukan dari rencana bisnis yang matang, melainkan dari kebiasaan kecil yang tumbuh perlahan.

Cak Syafi’i adalah alumni Pondok Pesantren Raudlotul Ulum, Ganjaran, Gondanglegi, Kabupaten Malang. Setelah menamatkan pendidikan agamanya, ia melanjutkan kuliah di Jurusan Pendidikan Agama Islam, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, angkatan 2007.

- Poster Iklan -

Latar pendidikan itulah yang membentuk cara berpikirnya hingga kini. Bagi seorang santri, hidup identik dengan khidmah, semangat mengabdi dan memberi manfaat sebelum menuntut hasil. Nilai itu pula yang kelak menuntunnya membaca peluang di kampung halaman, jauh sebelum Teras Semeru menjadi nama yang dikenal luas.

Titik balik itu datang tanpa rencana. Suatu subuh, ketika sebagian besar warga desa masih terlelap, pintu rumah Cak Syafi’i diketuk. Beberapa orang dari biro perjalanan asal Probolinggo berdiri di depan rumahnya, bukan untuk bertamu, melainkan sekadar meminta izin menitipkan kendaraan. Rombongan yang mereka bawa hendak menikmati panorama Gunung Semeru dari kejauhan. “Semua ini awalnya benar-benar tidak sengaja. Di luar dugaan sama sekali,” kenang Cak Syafi’i.

Kunjungan itu ternyata bukan yang terakhir. Nyaris tiap akhir pekan, ada saja rombongan yang numpang parkir di halamannya. Dari pola berulang itu, Cak Syafi’i mulai menangkap sesuatu yang lebih besar: desanya punya modal yang selama ini luput dari perhatian, yakni pemandangan sawah berundak dengan latar Gunung Semeru yang gagah. Dari titik itulah embrio Teras Semeru lahir.

Modal Cak Syafi’i bukan uang besar, melainkan kepekaan membaca peluang dan keyakinan pada prinsip khairunnas anfa’uhum linnas, sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesama. Ia mulai menata lahan sawah dan pekarangan menjadi tempat yang nyaman untuk duduk, menikmati kopi, dan memandang Semeru tanpa harus mendaki.

Konsep itu ia bangun di atas prinsip pemberdayaan warga sekitar. Bukan sekadar tempat nongkrong, Teras Semeru dirancang agar perputaran ekonominya tetap berputar di desa. Warga menjual hasil kebun, menyediakan jasa parkir, hingga membuka warung kecil di sekitar lokasi.

Cara berpikir semacam ini, menurut Cak Syafi’i, tidak jauh-jauh dari yang diajarkan di pesantren dulu. Ilmu yang didapat di pondok, katanya, tidak berhenti pada hafalan atau teori, tetapi harus terasa manfaatnya bagi orang di sekitar. Prinsip itulah yang membuatnya enggan menjadikan Teras Semeru sekadar usaha pribadi. Setiap pengembangan tempat ini selalu ia kaitkan dengan pertanyaan sederhana: apakah warga sekitar ikut merasakan hasilnya?

Kini, Teras Semeru dikenal luas sebagai bagian dari jaringan desa wisata Sumberurip yang terdaftar dalam Jejaring Desa Wisata Jawa Timur. Jalan setapak di tengah sawahnya kerap dijadikan latar berfoto oleh pengunjung, sementara warung-warung semi terbuka di sekitarnya menyajikan kopi lokal dan camilan tradisional dengan harga bersahabat.

Popularitasnya turut terdorong oleh posisi Pronojiwo yang berdekatan dengan destinasi lain di lereng Semeru, seperti Air Terjun Tumpak Sewu dan kawasan hutan pinus setempat, sehingga banyak wisatawan menjadikannya satu rangkaian perjalanan.

Cak Syafi’i sendiri tak berhenti pada urusan mengelola tempat duduk dan secangkir kopi. Ia juga aktif mempromosikan pariwisata Pronojiwo ke panggung lebih luas, termasuk berkolaborasi dengan sejumlah program promosi wisata pada 2025, sebagai bagian dari ikhtiarnya menghidupkan ekonomi berbasis masyarakat di kampung halamannya.

Bagi yang ingin berkunjung, Teras Semeru berlokasi di Dusun Seriti, Desa Sumberurip, Kecamatan Pronojiwo, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, sekitar 44 kilometer atau kurang lebih satu jam berkendara dari pusat Kota Lumajang. Atau, sekitar 76,8 kilometer dari pusat Kota Malang. Akses jalan sudah cukup ramah untuk kendaraan roda dua maupun roda empat, meski beberapa ruas jalan menuju kaki Semeru masih berkontur menanjak dan berkelok.

Waktu terbaik berkunjung adalah pagi hari, saat langit masih cerah dan puncak Semeru belum tertutup kabut. Harga makanan dan minuman di warung sekitar tergolong ramah kantong, cocok untuk wisata keluarga maupun rombongan kecil yang ingin menikmati suasana pedesaan tanpa harus mendaki gunung.

Menjelang Magrib, saat lampu-lampu mulai menyala satu per satu dan kabut sore berganti gelap, saya berpamitan sambil menatap siluet Semeru yang masih setia berdiri di kejauhan. Ada satu hal yang saya bawa pulang dari obrolan sore itu. Rezeki dan peluang kerap datang lewat pintu yang tidak pernah kita duga akan diketuk.

Bagi Cak Syafi’i, ketukan di subuh itu bukan gangguan, melainkan undangan untuk melihat ulang apa yang selama ini ada di halaman rumahnya sendiri. Nilai-nilai kesederhanaan yang ia bawa dari pesantren rupanya bisa tumbuh subur di mana saja, bahkan di lereng gunung tertinggi di Pulau Jawa, selama ada kemauan membuka pintu saat peluang datang mengetuk.

Kisah Teras Semeru barangkali bisa jadi pengingat bagi siapa saja yang merasa kampung halamannya “tidak punya apa-apa”. Sering kali yang dibutuhkan bukan modal besar atau rencana yang sempurna, melainkan kepekaan untuk melihat apa yang sudah ada di depan mata, dan keberanian untuk membukakan pintu. Wallahu a’lam.

- Cetak Buku dan PDF-
Previous articleAdequacy
Abdur Rahim
Penikmat cerita. Santri-Alumni Pondok Pesantren Kyai Syarifuddin Lumajang. Selain bekerja sebagai kurator, penyunting, dan pengembang naskah buku, ia juga aktif dalam gerakan literasi. Sejak tahun 2015, terlibat dalam berbagai pelatihan penulisan serta pendampingan (coaching clinic) penerbitan buku, khususnya bagi kalangan akademisi dan komunitas pesantren, guna mendorong tradisi intelektual dan publikasi karya di Indonesia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here