Kendaraan listrik semakin sering hadir dalam percakapan sehari-hari. Kita melihatnya dalam pemberitaan, unggahan media sosial, pameran otomotif, iklan, hingga kendaraan yang mulai melintas di jalan raya. Ia kerap diperkenalkan sebagai salah satu jawaban atas persoalan polusi udara, ketergantungan pada bahan bakar fosil, dan kebutuhan akan sistem transportasi yang lebih berkelanjutan.
Namun, perubahan teknologi tidak pernah berlangsung hanya karena sebuah inovasi dianggap lebih baik. Masyarakat perlu mengenal, memahami, dan mempercayainya terlebih dahulu. Bahkan setelah semua informasi tersedia, belum tentu seseorang segera bersedia mengubah kebiasaan.
Di sinilah komunikasi memainkan peran penting. Teknologi memang menciptakan kemungkinan, tetapi komunikasilah yang membantu masyarakat memberi arti pada kemungkinan tersebut.
Penelitian mengenai kampanye kendaraan listrik pada akun Instagram PLN memperlihatkan satu hal yang menarik: pesan digital cukup kuat dalam meningkatkan kesadaran masyarakat, tetapi pengaruhnya terhadap sikap masih relatif lemah. Temuan ini mengingatkan kita bahwa membuat masyarakat mengetahui sebuah inovasi jauh lebih mudah daripada meyakinkan mereka untuk menerima, menggunakan, dan menjadikannya bagian dari kehidupan.
Mengetahui Belum Tentu Mempercayai
Kampanye digital membuat informasi mengenai kendaraan listrik menjadi lebih mudah dijangkau. Melalui video pendek, infografik, testimoni pengguna, serta informasi tentang stasiun pengisian kendaraan listrik, masyarakat dapat mengenal teknologi ini tanpa harus membaca laporan teknis yang rumit.
Pesan yang jelas dan berulang dapat membantu orang memahami manfaat kendaraan listrik. Masyarakat mulai mengetahui bahwa kendaraan listrik tidak menghasilkan emisi gas buang langsung, memiliki biaya energi yang berbeda dari kendaraan berbahan bakar minyak, serta menjadi bagian dari upaya membangun mobilitas yang lebih ramah lingkungan.
Dalam penelitian terhadap pengikut akun Instagram PLN dari kelompok milenial, hubungan antara pesan kampanye dan kesadaran berada pada angka 0,655. Angka tersebut menunjukkan hubungan yang relatif kuat. Dengan kata lain, kampanye digital berhasil membuat masyarakat lebih sadar terhadap keberadaan, manfaat, dan perkembangan kendaraan listrik.
Akan tetapi, hubungan antara pesan kampanye dan sikap hanya berada pada angka 0,220. Pengaruhnya positif, tetapi masih lemah. Hubungan antara kesadaran dan sikap juga terbatas, yaitu sebesar 0,315.
Mengapa seseorang yang sudah mengetahui manfaat kendaraan listrik belum tentu memiliki sikap yang mendukung?
Jawabannya berkaitan dengan cara manusia mengambil keputusan. Sikap tidak hanya dibentuk oleh pengetahuan. Ia juga dipengaruhi oleh pengalaman, kebiasaan, kemampuan ekonomi, persepsi mengenai risiko, dan pendapat orang-orang di sekitar kita.
Seseorang mungkin memahami bahwa kendaraan listrik lebih ramah lingkungan, tetapi tetap mengkhawatirkan harga pembelian. Orang lain mungkin tertarik pada teknologinya, tetapi ragu terhadap ketersediaan tempat pengisian daya. Ada pula yang mempertanyakan usia baterai, biaya perawatan, keamanan, jarak tempuh, atau nilai jual kembali.
Artinya, kesadaran hanyalah pintu masuk. Setelah pintu itu terbuka, masih ada lorong panjang yang harus dilewati sebelum masyarakat benar-benar percaya dan bersedia berubah.
Kondisi tersebut tidak hanya terjadi pada kendaraan listrik. Banyak inovasi gagal diterima bukan karena masyarakat menolaknya secara langsung, melainkan karena mereka belum merasa cukup aman untuk mencobanya. Informasi dapat menjawab pertanyaan “apa”, tetapi kepercayaan dibutuhkan untuk menjawab pertanyaan “apakah ini cocok untuk saya?”
Dari Pesan Digital Menuju Pengalaman Nyata
Dalam komunikasi persuasif, masyarakat dapat memproses pesan melalui dua jalur. Pertama, jalur rasional atau jalur pusat, ketika seseorang memperhatikan fakta, membandingkan manfaat, dan mempertimbangkan sebuah keputusan dengan serius. Kedua, jalur periferal, ketika ketertarikan lebih banyak muncul karena desain pesan, figur yang menyampaikan, tren, popularitas, atau kesan emosional.
Kampanye kendaraan listrik membutuhkan keduanya.
Informasi rasional tetap penting. Masyarakat perlu mendapatkan penjelasan yang terbuka mengenai harga, biaya pengisian daya, daya tahan baterai, keamanan, lokasi stasiun pengisian, hingga layanan purnajual. Informasi tersebut sebaiknya tidak hanya menyebutkan bahwa kendaraan listrik lebih hemat atau ramah lingkungan, tetapi menunjukkan perhitungannya dalam situasi sehari-hari.
Misalnya, berapa biaya yang dibutuhkan untuk perjalanan rutin dari rumah ke kantor? Di mana pengguna dapat mengisi daya ketika bepergian ke luar kota? Apa yang harus dilakukan ketika daya hampir habis? Berapa lama baterai dapat digunakan sebelum perlu diganti?
Bahasa kampanye perlu berangkat dari pertanyaan nyata masyarakat, bukan semata-mata dari keunggulan produk.
Di sisi lain, keputusan juga memiliki unsur emosional. Orang tidak selalu membeli kendaraan hanya karena perhitungan ekonomi. Kendaraan dapat berkaitan dengan kenyamanan, gaya hidup, rasa aman, identitas, bahkan kebanggaan.
Karena itu, kampanye kendaraan listrik tidak cukup hanya dipenuhi angka dan istilah teknis. Cerita pengguna juga diperlukan. Pengalaman keluarga yang menggunakan kendaraan listrik untuk aktivitas harian, cerita pengemudi yang melakukan perjalanan antarkota, atau pengalaman pengguna ketika mengisi daya dapat membuat teknologi terasa lebih dekat.
Peta lokasi pengisian daya, video penggunaan kendaraan dalam kondisi nyata, serta jawaban terbuka terhadap keluhan masyarakat akan lebih meyakinkan daripada slogan besar tentang masa depan.
Komunikasi yang efektif harus membawa masyarakat melalui beberapa tahapan. Pesan pertama-tama perlu memantik perhatian. Setelah itu, pesan harus memperjelas manfaat. Kejelasan kemudian perlu diperkuat oleh kredibilitas. Ketika kepercayaan mulai terbentuk, masyarakat membutuhkan fasilitas dan pengalaman yang membuat mereka merasa mampu menggunakan teknologi tersebut. Barulah komunikasi dapat menggerakkan tindakan.
Dengan demikian, kampanye bukan sekadar kegiatan menyebarkan informasi. Kampanye seharusnya menjadi jembatan antara janji teknologi dan pengalaman publik.
Mengubah Inovasi Hijau Menjadi Gerakan Bersama
Peralihan menuju kendaraan listrik tidak dapat dibebankan hanya kepada konsumen. Masyarakat memang perlu mempertimbangkan pilihan transportasinya, tetapi pilihan tersebut harus didukung oleh ekosistem yang memungkinkan.
Pemerintah dan lembaga publik memiliki tanggung jawab untuk menyampaikan informasi secara transparan. Kebijakan, insentif, tarif pengisian daya, standar keamanan, dan rencana pembangunan infrastruktur perlu dijelaskan dengan bahasa yang mudah dipahami. Komunikasi publik harus bersifat melayani, bukan sekadar meyakinkan.
Industri juga perlu menghadirkan bukti melalui pengalaman pengguna. Promosi harus diikuti oleh kualitas produk, ketersediaan layanan, kemudahan perawatan, dan kepastian suku cadang. Kepercayaan yang dibangun melalui media sosial dapat runtuh apabila pengalaman nyata konsumen tidak sesuai dengan pesan yang disampaikan.
Perguruan tinggi dapat berperan dengan melakukan penelitian dan evaluasi terhadap kampanye publik. Institusi pendidikan tidak hanya menghasilkan pengetahuan tentang teknologi, tetapi juga membantu menjelaskan bagaimana masyarakat memahami, menerima, atau menolak sebuah inovasi. Temuan penelitian dapat menjadi dasar untuk merancang pesan yang lebih relevan, bukan hanya lebih menarik.
Masyarakat pun bukan sekadar penerima pesan. Pengguna dapat menjadi sumber pengalaman, kritik, dan pembelajaran. Testimoni yang jujur, komunitas pengguna, diskusi daring, dan konten yang dapat dibagikan akan membuat kampanye berkembang menjadi percakapan bersama.
Di era media sosial, komunikasi tidak lagi sepenuhnya bergerak dari institusi menuju publik. Sebuah pesan dapat dikomentari, dipertanyakan, diuji, bahkan dibantah dalam waktu singkat. Karena itu, kampanye kendaraan listrik harus membuka ruang partisipasi. Masyarakat perlu merasa bahwa kekhawatiran mereka didengar dan pertanyaan mereka dijawab.
Kendaraan listrik pada akhirnya bukan hanya persoalan mengganti mesin berbahan bakar minyak dengan motor listrik. Perubahan ini berkaitan dengan kebiasaan, infrastruktur, pola konsumsi energi, dan cara masyarakat membayangkan masa depan.
Inovasi perlu dipahami sebelum digunakan. Teknologi membutuhkan kejelasan, relevansi, dan kepercayaan sebelum diterima. Sementara itu, komunikasi bertugas mengubah gagasan keberlanjutan yang terasa jauh menjadi pilihan yang masuk akal dalam kehidupan sehari-hari.
Kampanye digital dapat menjadi awal perubahan, tetapi tidak dapat bekerja sendirian. Sebuah unggahan mungkin membuat seseorang berhenti sejenak dan membaca. Informasi yang baik dapat membuatnya memahami. Namun, pengalaman yang meyakinkanlah yang pada akhirnya membentuk kepercayaan.
Perjalanan menuju mobilitas berkelanjutan memang tidak berlangsung secepat menggulir layar telepon. Ia membutuhkan waktu, pembuktian, dan keterlibatan banyak pihak. Akan tetapi, setiap perubahan besar selalu dimulai dari percakapan yang mampu membuat masyarakat melihat bahwa masa depan bukan hanya sesuatu yang akan datang, melainkan sesuatu yang dapat dipilih dan dibangun bersama.
Catatan Penulis
Tulisan ini dikembangkan dari hasil penelitian bersama Alicia Angelina Baso yang berjudul “Pengaruh Pesan Kampanye Digital di Instagram terhadap Kesadaran dan Sikap Generasi Milenial mengenai Electric Vehicle: Survei kepada Pengikut Instagram @pln.id.” Temuan penelitian tersebut kemudian disajikan kembali dalam bentuk tulisan populer agar lebih mudah dipahami oleh pembaca umum.




















