“Aku gak tahu setelah ini akan seperti apa. Malu Rasanya. Aku bukan cuma kehilangan uang, tapi juga kehilangan rasa percaya ke orang.”
Kalimat tersebut meluncur datar, setelah helaan nafas yang panjang dari kawan saya. Hari itu, ia khusus meminta waktu saya untuk mendengarkan kisahnya. Ia menjadi korban love scam. Tak tampak amarah di wajahnya. Hanya raut lelah dan putus asa. Ia merasa menjadi pria paling tolol, karena mempercayai orang yang belum pernah ia temui sekalipun. Ia tak hanya menginvestasikan waktu dan energi ke sosok yang mengaku berprofesi sebagai pramugari dan bernama Agnes. Lebih dari itu, ia menaruh harapan bisa membangun masa depan bersama. Kini, Agnes raib tanpa jejak, beserta ratusan juta tabungan kawan saya yang telah berpindah tangan.
Ia mengenal Agnes pertama ketika sebuah pesan masuk di instagramnya, meminta berkenalan. Karena cara bicara perempuan itu menarik dengan foto profil memikat, maka Kawan saya pun membalas pesan tersebut. Setelah berbalas pesan via Instagram dalam hitungan hari, mereka beralih ke whatsapp. Dan, Agnes membuai kawan saya dengan banyak perhatian dan kalimat manis. Perlahan tapi pasti, tanpa disadari, kawan saya telah masuk dalam jerat love scam yang dilakukan oleh Agnes (dan komplotannya).
Apa yang terjadi pda Kawan saya, itulah yag saat ini dikenal sebagai kejahatan berkedok asmara atau love scam. Love scam menjadi istilah yang tak asing lagi karena frekuensinya yang semakin sering muncul di media massa. Problem asmara yang penuh muslihat, tak lagi hanya menjadi masalah remaja, namun bisa menimpa siapa saja, lintas usia, perempuan maupun pria. Seperti halnya yang terungkap dari kasus ditangkapnya 10 orang warga negara asing (WNA) yang terlibat dalam sindikat love scam. Mereka ditangkap di Surabaya pada Juni 2026 lalu. Sindikat ini menargetkan perempuan maupun laki-laki yang berusia di atas 45 tahun sebagai korban mereka. Kerugian yang ditimbulkan oleh love scam juga tidak main-main, rata-rata seorang korban mengalami kerugian hingga ratusan juta rupiah. Sindikat love scam yang berhasil dibongkar dalam satu tahun terakhir juga ada di daerah Batam, Medan, Bandung, dan Semarang.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebutkan bahwa penipuan berkedok asmara adalah tren kejahatan digital yang grafiknya naik tajam sejak tahun lalu. Di 2025, OJK menyebutkan adanya 3.949 laporan kejahatan love scam. Sementara, data di kepolisian, per April 2026 telah ada 548.043 kasus yang dilaporkan. Di kancah internasional, love scam juga dipandang sebagai ancaman serius, dan banyak Negara membuat unit atau Departemen khusus untuk menangani ini. Di kalangan masyarakat internasional, love scam juga disebut dengan romance baiting.
Yang menarik dari kejahatan digital love scam ini adalah bagaimana mereka menggunakan komunikasi sebagai senjata utama dalam tindak kriminalitasnya. Dapatkah kita membayangkan, bagaimana bisa seseorang merasa nyaman dan terlibat emosi secara mendalam pada sosok yang tak pernah mereka jumpai di kehidupan nyata. Tentu ini bukan karena soal santet, sihir atau guna-guna, melainkan lihainya para komplotan penjahat tersebut memahami konsep komunikasi antarmanusia dan menerapkannya dalam modus operandi mereka.
Mereka tidak hanya sekadar berkomunikasi, namun membangun sebuah strategi yang sistematis. Target sudah dipindai dari awal, ditentukan secara tepat dengan indikator yang terukur. Hal ini terbukti, ketika Interpol melakukan penggerebekan sindikat love scam di Filipina, mereka juga menemukan buku panduan yang berisi arahan dan sejumlah latihan untuk para scammer. Isinya bukan soal bagaimana mengoperasikan perangkat digital atau membobol rekening korban, namun di buku tersebut berisi cara menentukan korban dengan potensi keberhasilan tinggi, beragam tips untuk membangun identitas dan karakter personal yang menarik, cara memulai percakapan, memilih word of affirmation -ragam kalimat yang menunjukkan rasa empati, sayang, peduli dan perhatian- dengan tepat di berbagai situasi, menentukan waktu yang tepat untuk mengeluarkan rayuan, hingga membangun kepercayaan sedikit demi sedikit, hingga akhirnya mengarahkan korban untuk mau memberikan uangnya, baik secara cuma-cuma maupun dengan alasan investasi bisnis.
Senjata itu bernama kemampuan komunikasi
Sindikat ini mempelajari dan menerapkan teori komunikasi antarpersona dengan sangat apik. Mereka tidak membutuhkan senjata api untuk menakuti korban, namun menggunakan kecakapan komunikasi untuk memanipulasi para korban. Mereka memahami benar prinsip dasar dalam komunikasi antarmanusia, bahwa komunikasi bersifat simbolik. Maka, simbol itu pula yang mereka mainkan untuk membangun jerat manipulatif mereka.
Manajemen impresi yang mereka bangun dimulai dari “halo effect”, yaitu kesan pertama yang didapatkan seseorang dari lawan bicara pada pertemuan awal mereka. Dalam perspektif komunikasi antarpersona, efek halo ini akan menentukan keberhasilan komunikasi berikutnya dengan lawan bicara. Jika pelaku berhasil menciptakan kesan perdana yang menarik, baik, hangat dan tidak membahayakan, maka korban akan mengalami bias kognitif atau gagal menilai seseorang secara objektif di fase komunikasi berikutnya.
Kemudian, penerapan teori umbi lapis (onion metaphor), yang menjelaskan kedekatan seseorang tidak dibangun seketika, namun sedikit demi sedikit. Untuk bisa membuat seseorang membuka diri pada kita, maka perlu proses komunikasi setahap demi setahap, seperti halnya bawang yang dikupas dari lapis terluar satu demi satu. Perbincangan pertama, pelaku tidak akan mengorek informasi personal tentang korban. Pelaku lebih memilih untuk membincang cuaca, kota-kota yang indah di dunia, atau hal lain yang bersifat umum. Jika korban telah merasa nyaman, maka ia akan membuka diri mengenai tinggal di mana, kota apa, apa aktivitas harian yang dilakukan, dan seterusnya.
Manajamen impresi yang dilakukan oleh sindikat love scam juga disertai dengan kemampuan membangun narasi yang apik. Mereka paham betul apa yang dikemukakan oleh Walter Fisher dalam Paradigma Naratif, yang menyatakan bahwa keberhasilan komunikasi sangatlah bergantung pada cerita yang menggugah hati. Para scammer mempelajari cara bagaimana menjadi pendongeng yang ulung di mata korban mereka. “aku adalah laki-laki yang bekerja di Perusahaan minyak lepas Pantai”, “aku ditinggal wafat istri yang sangat kucintai 6 tahun yang lalu”, “aku adalah dokter”, “aku pramugari yang sering bepergian ke luar negeri”. Semua tentang cerita. Dan, mereka mengetahui bahwa cerita yang baik adalah cerita yang masuk akal serta konsisten. Maka, di situlah sindikat bekerja rapi untuk menjaga cerita agar tetap masuk akal serta tidak berubah-ubah.
Literasi Komunikasi Melengkapi Literasi Digital
Hubungan romantis yang terjalin dan tampak nyata bagi korban, hanyalah sebuah ilusi yang diproduksi melalui skrip komunikasi yang telah disusun demikian apik dan terencana. Korban mengira ia tengah mendapatkan sosok yang tulus mencintainya, padahal ia tengah menghadapi komplotan penjahat di ruang digital. Kepercayaan (dan perasaan) yang terbentuk mendalam menjadi alat pemerasan kekayaan secara brutal.
Pelaku memanfaatkan teknologi digital mulai dari media sosial, platform aplikasi kencan, hingga kecerdasan buatan untuk membuat simbol-simbol manipulatif bagi korban. Mereka menciptakan identitas, membangun afeksi, membentuk kepercayaan dengan bantuan teknologi.namun, teknologi tetaplah sebuah alat. Senjata utama yang mematikan sebenarnya adalah komunikasi.
Di sinilah literasi komunikasi juga menjadi penting. Masyarakat tak hanya cukup mengetahui pentingnya membedakan hoaks dan fakta, atau melindungi data pribadi di ruang digital, namun juga perlu dibangun kesadaran dan kecakapan mengenai cara kerja komunikasi dalam hubungan antar persona maupun dalam konteks lainnya.
Literasi komunikasi tidaklah berarti mengajarkan manusia untuk selalu curiga terhadap orang baru dan hubungan baru. Namun, literaisi komunikasi membantu masyarakat memahami bahwa hubungan yang sehat tidak dibangun melalui percepatan kedekatan yang berlebihan (love bombing). Kesadaran ini menjadi penting ketika semakin banyak orang mencari teman baru, pasangan, atau sekadar ruang berbagi cerita di dunia digital.




















