media sosial

Ketika Anda mendengar kata pesantren atau pondok, apa yang pertama kali terlintas dalam pikiran Anda? Apakah masjid, bangunan asrama yang mungkin telah lama berdiri, remaja laki-laki yang ke mana-mana mengenakan kopyah, sarung, dan baju koko, atau remaja perempuan yang mengenakan pakaian tertutup dari kepala hingga kaki? Mungkin pula yang muncul adalah sosok kiai yang mengajarkan kitab, suara pengajian dan shalawat selepas Subuh atau pada malam-malam tertentu, atau kehidupan sederhana yang dibangun dengan disiplin dan kebersamaan.

Setiap orang tentu memiliki gambaran yang berbeda tentang pesantren. Bagi mereka yang pernah belajar di pondok, pesantren bukan sekadar tempat untuk menimba ilmu agama. Bagi mereka, pesantren dapat berarti kamar yang menyimpan banyak cerita, antre mandi dan mencuci pakaian, makan bersama, membersihkan lingkungan, mempelajari kitab hingga larut malam, bangun sebelum Subuh, serta nasihat kiai yang terus terngiang-ngiang setelah menjadi alumni. Berbagai pengalaman tersebut membentuk kenangan yang membuat pesantren memiliki makna personal bagi setiap orang yang pernah hidup di dalamnya.

Sementara itu, bagi mereka yang tidak pernah belajar atau berkunjung ke pesantren, gambaran tentang kehidupan tersebut mungkin terbentuk dari cerita teman, saudara, keluarga, alumni, atau masyarakat di sekitarnya. Gambaran tersebut terbentuk dari pengalaman orang lain, bukan dari kehidupan yang mereka jalani sendiri. Cara seperti ini membuat pengetahuan tentang pesantren sangat bergantung pada cerita yang sampai kepada mereka.

Keadaan tersebut mulai berubah ketika media sosial hadir dalam kehidupan sehari-hari. Seseorang tidak harus datang langsung ke pondok hanya untuk mengetahui seperti apa suasana di dalamnya. Dengan membuka TikTok, Instagram, YouTube, atau platform digital lainnya, orang dapat menemukan foto dan video yang menampilkan berbagai aktivitas di pesantren. Perkembangan teknologi membuat jarak antara pesantren dan masyarakat terasa semakin dekat. Kehidupan yang sebelumnya hanya dapat disaksikan oleh mereka yang tinggal di pondok atau datang berkunjung, kini dapat ditemukan di media sosial.

- Poster Iklan -

Kemudahan tersebut tidak lepas dari tingginya penggunaan media sosial di Indonesia. Merujuk DataReportal dalam Digital 2026: Indonesia, per Oktober 2025 terdapat 180 juta identitas pengguna media sosial aktif di Indonesia, atau setara dengan 62,9 persen dari total populasi. Angka tersebut menunjukkan betapa luasnya ruang perjumpaan masyarakat Indonesia dengan media sosial dalam kehidupan sehari-hari.

Kehidupan Biasa di Pesantren, Cerita bagi Dunia

Yang menarik, tidak semua yang muncul dari pesantren di media sosial berupa kegiatan besar. Haul pendiri pesantren, penampilan santri, dan kunjungan pejabat pemerintah memang dapat menjadi materi yang menarik, tetapi hal-hal sederhana pun memiliki daya cerita. Cara santri berpakaian, saling menyapa, berkomunikasi dengan guru, hingga adab ketika bertemu kiai dapat menjadi sesuatu yang menarik ketika hadir di media sosial. Bagi santri, semua itu mungkin merupakan bagian dari keseharian. Bagi orang lain, justru di situlah cerita baru dimulai.

Cerita tersebut dapat terasa berbeda karena pengalaman setiap orang terhadap pesantren tidak sama. Bagi santri, hidup bersama teman dari berbagai daerah, mengikuti aturan, belajar bersama, dan berinteraksi dengan kiai merupakan bagian dari rutinitas. Namun, bagi mereka yang belum pernah mondok, hal tersebut dapat memunculkan pertanyaan. Bagaimana remaja dari berbagai latar belakang dapat hidup bersama? Mengapa aturan di pondok begitu banyak? Bagaimana hubungan santri dengan kiai? Pertanyaan semacam ini membuat sebuah konten tidak berhenti pada apa yang terlihat.

Rasa penasaran tersebut dapat membawa seseorang untuk mencari informasi lebih jauh tentang pesantren. Ada yang kemudian melihat konten lain, membaca informasi tentang pondok, berkunjung, atau bahkan mempertimbangkannya sebagai tempat pendidikan bagi anak. Ketertarikan itu bukan hanya muncul karena gambar atau video yang menarik, tetapi karena ada sesuatu di baliknya yang ingin diketahui: kebiasaan, tradisi, aturan, dan nilai yang membentuk kehidupan di pondok.

Stig Hjarvard melalui konsep mediatization menjelaskan bahwa media bukan lagi sekadar saluran untuk menyampaikan informasi. Media semakin menjadi bagian dari kehidupan sosial dan semakin terhubung dengan berbagai institusi di masyarakat. Ketika media terintegrasi dengan institusi sosial, institusi tersebut juga semakin menyesuaikan diri dengan media dalam menjalankan aktivitasnya.

Dalam konteks pesantren, gagasan Hjarvard tersebut dapat dilihat dari semakin terintegrasinya media sosial dengan kehidupan pondok. Media sosial tidak lagi hanya digunakan untuk menyampaikan informasi atau mendokumentasikan kegiatan, tetapi mulai menjadi bagian dari cara pesantren berkomunikasi dan memperkenalkan kehidupannya kepada publik. Ketika sebuah kegiatan santri atau kiai dihadirkan melalui media sosial, kehidupan yang berlangsung di pondok kemudian dapat dikenal oleh orang yang berada di luar lingkungan pesantren. Namun, apa yang hadir di media tentu bukan keseluruhan kehidupan tersebut. Sebuah video yang hanya berdurasi beberapa menit, misalnya, merupakan potongan dari kehidupan pesantren yang berlangsung sepanjang hari.

Fig 1: Tangkapan layar akun media sosial salah satu pesantren di Indonesia

Pilihan tersebut kemudian menentukan cerita seperti apa yang dikenal masyarakat. Ada pesantren yang lebih banyak menampilkan tradisinya, ada yang menonjolkan kehidupan santri, ada yang memperlihatkan karya santri dan gurunya, dan ada pula yang membagikan nasihat kiainya. Karakter media sosial yang audio-visual memungkinkan berbagai cerita tersebut dikemas melalui foto, video, dan suara dalam bentuk yang relatif singkat. Dari pilihan-pilihan itulah setiap pesantren membangun cara sendiri untuk memperkenalkan kehidupannya kepada publik.

Pada akhirnya, hampir tidak ada organisasi yang sepenuhnya terlepas dari media sosial, tidak terkecuali pesantren. Media sosial menjadi ruang baru bagi pesantren untuk menceritakan dirinya kepada masyarakat. Media sosial tidak harus mengubah pesantren menjadi sesuatu yang lain. Ia cukup menjadi tempat membawa cerita dari dalam pondok agar semakin banyak orang mengenal pesantren dari apa yang memang tumbuh di dalamnya.

- Cetak Buku dan PDF-

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here