Saat membongkar tumpukan buku lama di rumah, saya menemukan kembali naskah Kentrung Saroja lakon Tukon/Mahar karya almarhum Ki Sutak Wardiono. Kertasnya telah lusuh dan penuh coretan panggung. Melalui lembaran itulah, ingatan kembali pada Bladas Luru, tokoh yang kebetulan sempat diamanahkan untuk diperankan beberapa tahun silam.
Membaca ulang naskah tersebut justru menghadirkan sebuah kesadaran baru. Teks yang sesungguhnya berbicara tentang hukum dan tata kehidupan masyarakat Majapahit itu ternyata terasa sangat relevan untuk menjelaskan satu persoalan komunikasi masyarakat digital hari ini. Mengapa manusia sering bertengkar untuk sesuatu yang bahkan belum tentu nyata?
Kita hidup dalam sebuah paradoks peradaban. Teknologi memfasilitasi komunikasi yang nyaris tanpa hambatan dan membuka ruang perjumpaan tanpa batas. Namun pada saat yang sama, kita menyaksikan semakin banyak konflik lahir dari komunikasi itu sendiri. Perdebatan kecil berubah menjadi permusuhan, percakapan keluarga terpecah, dan pertemanan renggang akibat pertarungan narasi di media sosial. Ironisnya, masalah kita hari ini bukan kekurangan informasi, melainkan kesulitan mengolah dan menegosiasikan makna. Dunia digital terasa benderang oleh cahaya teknologi, tetapi relasi antarmanusia sering kali berjalan dalam kegelapan pemahaman.
Dalam konteks inilah, penggalan dialog reflektif dari naskah panggung tersebut terasa menemukan momentumnya. Terdapat satu kalimat yang begitu menarik perhatian:
“Sunare wulan purnama gak isa tembus nang njero. Padang njaba peteng njero. Lelemunan dikira kasunyatan.” (Sinar bulan purnama tidak bisa menembus ke dalam. Terang di luar, gelap di dalam. Khayalan/angan-angan dikira kenyataan)
Purnama yang bersinar terang nyatanya tidak mampu menembus ke dalam ruang-ruang rumah. Dari luar tampak benderang (padang), tetapi di dalam tetap saja diliputi kegelapan (peteng). Dalam keadaan seperti itu, bayangan semu dan ilusi (lelemunan) sering kali dianggap sebagai kenyataan.
Sulit rasanya mengabaikan metafora tersebut dengan lanskap masyarakat digital saat ini. Layar gawai menyala memancarkan terang hampir sepanjang hari, membawa notifikasi tanpa henti. Namun, di tengah kelimpahan “cahaya” koneksi tersebut, mengapa relasi sosial justru sering kehilangan arah?
Dalam perspektif komunikasi budaya, persoalan utamanya tidak pernah terletak pada infrastruktur teknologi, melainkan pada cara manusia memaknai esensi komunikasi. Komunikasi sejatinya bukan sekadar proses pertukaran pesan secara mekanis, melainkan sebuah laku kebudayaan untuk membangun pengertian, menegosiasikan makna, dan merawat ikatan sosial. Ketika fungsi luhur tersebut melemah, komunikasi kehilangan ruhnya dan berubah sekadar menjadi lalu lintas informasi yang bising.
Bertengkar Demi Sebuah Ilusi
Naskah Kentrung Saroja menarik karena menukik langsung pada watak dasar manusia. Keangkuhan ego tergambar melalui konflik rumah tangga Pak Tilem dan Mbok Layung.
Diceritakan bahwa rumah tangga mereka kehilangan ketenteraman. Selama nyaris 40 hari berturut-turut, suami istri ini bertengkar hebat memperebutkan kriteria calon besan dan menantu. Sang suami mendamba menantu berpangkat dan memiliki jabatan, sementara sang istri menginginkan besan kaya raya dengan tanah luas serta hewan ternak yang melimpah.
Masing-masing saling mempertahankan ego. Keluhan tentang sikap keras kepala pun meluncur berulang kali, Pak Tilem: “Duwe bojo tekune kaku, atos njaluk menange dewe”, Mbok Layung: “Gak kang rika ae ngalaho, aja njaluk menang dewe.”
Namun, inti kritik naskah ini justru muncul di penghujung dialog ketika Bladas Luru mengungkap kenyataan yang selama ini tersembunyi. Saat menengahi perdebatan dan meminta mereka memanggil calon besan serta menantu yang diributkan, terungkaplah sebuah kebenaran konyol. Anak yang jodohnya diperebutkan itu ternyata tidak ada alias sekadar pengandaian atau umpama semata!
Bladas Luru kemudian merangkum situasi absurd itu melalui kalimat, “Cilaka! Sik umpama dibelani gegeran 40 dina… Padang njaba peteng njero. Lelemunan di kira kasunyatan.” (Celaka! Sesuatu yang baru pengandaian dibela hingga bertengkar 40 hari… Di luar terang, di dalam gelap. Ilusi dikira kenyataan).
Di sinilah letak relevansi teguran tersebut terhadap perilaku komunikasi modern. Dalam kehidupan media sosial, seberapa sering kita mengorbankan ikatan persaudaraan sejati demi berdebat mati-matian membela sesuatu yang fiktif? Kita saling menghujat di kolom komentar karena termakan berita hoaks. Kita memutuskan pertemanan hanya karena bersitegang tentang skenario politik yang belum tentu terjadi. Energi terkuras habis untuk marah-marah terhadap “bayangan” ketakutan yang dikonstruksi oleh algoritma.
Lebih jauh lagi, konflik masif di era kiwari sering kali hanyalah ranting masalah sepele yang dibesarkan. Persis seperti peringatan dalam naskah tersebut, “Lha sing nggarai petal, pedot, ucul iku perkara sing sepele digawe dadi sepala” (Yang menyebabkan retak dan terputusnya persaudaraan itu sering kali perkara sepele yang dibesar-besarkan).
Pamer Jabatan dan Ilusi Kebijaksanaan
Sisi menarik lainnya dari lakon ini terletak pada kritiknya terhadap budaya pamer status sosial. Perdebatan sengit Pak Tilem dan Mbok Layung membuktikan bahwa standar ukuran dalam bermasyarakat sering kali diukur bukan dari integritas, melainkan deretan atribut artifisial.
Kritik terhadap keangkuhan ini disampaikan secara gamblang: “Sijine pamer jabatan, liyane pamer kebijaksanaan, tujuane gak beda. Jabriya, tomak njaluk menange dewe” (Yang satu pamer jabatan, yang lain pamer kebijaksanaan, tujuannya tidak berbeda. Memaksa dan mau menang sendiri).
Pernyataan tersebut terasa seperti cermin bagi perilaku pengguna media sosial abad ke-21. Di era kiwari, strategi pencitraan diri tidak selalu bermanifestasi dalam pamer kekayaan materi (wealth flexing), melainkan telah bermutasi menjadi pencitraan intelektual dan pemaksaan otoritas moral (virtue signaling) demi mendulang simpati publik secara digital.
Menengok kembali ingatan saat menghidupkan tokoh panggung tersebut, dialog Bladas Luru menawarkan sudut pandang pengingat yang begitu meneduhkan:
“Pamera pangkat jabatan nyatane gak melok nyandang. Pamera dunya brana nyatane wek e wong liya.” (Memamerkan pangkat jabatan nyatanya tidak ikut disandang selamanya. Memamerkan harta benda nyatanya hanyalah titipan).
Oleh karena itu, ketika komunikasi hanya dieksploitasi sebagai etalase untuk memajang status sosial, relasi antarmanusia menjadi sangat dangkal. Orang lain direduksi sekadar menjadi penonton pasif yang tugasnya memberikan validasi. Padahal, komunikasi yang bermartabat selalu bertumpu pada fondasi kesetaraan.
Membuka Jendela untuk Keberagaman
Pada akhirnya, kepingan kebijaksanaan paling menyentuh dari peninggalan usang ini meluncur saat tokoh Mbok Layung merenungkan mengapa manusia-manusia yang berbeda dapat hidup harmonis bersama.
“Sing asale adoh-adoh, beda-beda isa kumpul dadi siji, soale pada gelem nrima, lila legawa tur gelem njaga. Pada-pada isa ngregani lan ngajeni.” (Yang asalnya dari jauh, yang berbeda dapat berkumpul menjadi satu, karena sama-sama mau menerima, ikhlas dan mau menjaga. Sama-sama bisa saling menghargai).
Penggalan ini merangkum gagasan penting dalam komunikasi budaya. Relasi sosial yang tangguh tidak lahir semata-mata karena kesamaan identitas, melainkan dari kebesaran hati untuk menerima perbedaan. Di tengah pergaulan digital yang kian riuh dan beragam, pesan ini menjadi semakin penting. Apabila interaksi dikembalikan pada fitrahnya sebagai upaya saling memahami, ruang publik digital niscaya akan menjadi ekosistem yang jauh lebih waras.
Menariknya, masyarakat Majapahit yang menjadi latar nilai dalam Kentrung Saroja menyadari betul bahwa kehidupan bersama tidak dapat diserahkan begitu saja pada liarnya watak manusia. Karena itulah, dirumuskan berbagai norma untuk menjaga kelangsungan hubungan sosial, mulai dari urusan perkawinan, warisan, hingga transaksi ekonomi. Di balik deretan aturan tersebut, tersimpan kesadaran sederhana bahwa tatanan yang tertib membutuhkan kapasitas saling menghormati dan kelapangan mengelola perbedaan. Dalam banyak hal, tantangan yang ada hari ini sesungguhnya tidak jauh berbeda, meskipun panggungnya telah berpindah ke layar kaca gawai yang jauh lebih kompleks.
Lembaran naskah lusuh itu mengingatkan kembali bahwa metafora sang purnama masih berlaku sempurna hingga hari ini. Cahaya pengetahuan dan teknologi informasi bersinar terang benderang di sekitar kita. Namun, rumah interaksi sosial acap kali tetap gelap karena pintu kelapangan dada dan jendela empati terkunci rapat oleh egoisme.
Kebudayaan komunikasi yang sehat tidak lahir dari seberapa banyak kata yang diucapkan, melainkan dari seberapa besar kesediaan untuk mendengarkan. Di tengah dunia yang semakin bising oleh arus informasi, pertanyaan esensial yang layak direnungkan bukanlah seberapa banyak cahaya yang tersedia, melainkan seberapa lebar kita bersedia membuka jendela komunikasi. Sebab, seperti yang ditegaskan kembali oleh Kentrung Saroja, gelapnya sebuah relasi sosial sering kali bukan karena kurangnya penerangan, melainkan semata-mata karena kita terlampau sibuk mengejar bayangan semu yang dikira kenyataan.
***
Catatan Penulis:
Tulisan ini saya persembahkan untuk mengenang almarhum Ki Sutak Wardiono. Melalui Kentrung Saroja dan karya-karya lainnya, beliau meninggalkan jejak kebijaksanaan yang terus hidup, bahkan ketika zaman telah berubah dan panggung kehidupan berpindah ke ruang digital.
Al-Fatihah



















