the odysseus

Ruang bioskop bulan Juli ini kembali benderang oleh pendaran mahakarya. Lewat pita seluloid IMAX 70mm, sutradara Christopher Nolan mendedahkan epos klasik Yunani Kuno ke hadapan manusia kiwari melalui film The Odysseus. Sinema ini memikat bukan semata karena absennya rekayasa digital (CGI) yang digantikan oleh tata visual serba natural, melainkan juga berkat jajaran pelakon yang bernas.

Matt Damon tampil paripurna mengusung karisma sang pahlawan, beradu kedalaman emosi dengan Anne Hathaway yang menghidupkan ketabahan Penelope. Di sudut lain, ada Robert Pattinson yang culas sebagai Antinous dan Tom Holland yang mewakili darah muda Telemachus. Namun, di balik keriuhan sinematik tersebut, tersimpan sebuah diskursus yang jauh lebih sunyi sekaligus menggugah.

Bila ditelisik lebih jauh, terutama bagi kita yang bergiat di dunia Ilmu Komunikasi, film The Odysseus sejatinya menjelma menjadi sebuah panggung pembedahan ilmu komunikasi. Karya ini adalah laboratorium raksasa yang merekam jejak purba tentang bagaimana manusia bertukar pesan, merancang taktik, merawat ingatan, dan berupaya pulih dari trauma. Setiap lanskap adegan, jeda, dan keheningan di dalamnya adalah teks hidup yang mengajak kita membaca ulang teori-teori komunikasi, jauh sebelum peradaban manusia disesaki oleh bisingnya media digital seperti hari ini.

Lapis pertama dari keagungan narasi ini dapat kita jumpai ketika alur cerita dikonstruksi melalui tuturan masa lalu. Ketika sang pahlawan terdampar di pulau nimfa Calypso—yang diperankan dengan apik oleh Charlize Theron—ia menuturkan sendiri getir perjalanannya. Dalam khazanah ilmu komunikasi, apa yang dilakukan Odysseus beresonansi kuat dengan Paradigma Naratif gagasan Walter Fisher.

- Poster Iklan -

Fisher meyakini bahwa manusia pada hakikatnya adalah homo narrans, sang pencerita. Rangkaian kata yang meluncur dari bibir Odysseus bukanlah sekadar laporan faktual layaknya berita. Cerita tersebut adalah medium pelipur lara, sebuah ikhtiar untuk menjahit kembali kewarasan yang koyak akibat trauma perang panjang. Di titik ini, narasi dan komunikasi lisan menjadi katarsis penyembuhan yang paling purba.

Beralih dari tuturan verbal, narasi film ini juga membawa kita pada salah satu bentuk manipulasi pesan paling masyhur dalam sejarah peradaban: Kuda Troya. Secara wujud, ia tak lebih dari tumpukan kayu berukir. Namun, meminjam kacamata Teori Interaksionisme Simbolik dari George Herbert Mead, kita diajak menyadari bahwa makna selalu lahir dari rahim interaksi sosial.

Bagi pasukan musuh yang tengah dimabuk euforia kemenangan, patung raksasa itu dimaknai sebagai lambang ketundukan dan persembahan suci. Sebaliknya, bagi otak sang kreator taktik, ia adalah eufemisme dari sebuah invasi yang mematikan. Pesan rupanya bisa berubah wujud, amat bergantung pada memori dan pengalaman siapa yang menafsirkan simbol tersebut.

Kekayaan tekstur komunikasi dalam film ini terasa semakin tebal manakala kita mengamati kekuatan pesan nonverbalnya. Ini menjadi rujukan yang sangat relevan dan kaya manakala kita tengah membedah estetika film di ruang-ruang kuliah. Saat sang pahlawan tiba di tanah airnya, Ithaca, setelah dua dekade lenyap ditelan samudra, kepulangannya tidak ditandai oleh pekik gegap gempita. Identitasnya justru terbongkar perlahan melalui ingatan yang bersemayam pada artefak dan sentuhan fisik.

Seekor anjing tua yang setia mengibaskan ekor saat mencium aromanya, rabaan tangan keriput sang pengasuh pada bekas luka di pergelangan kakinya, hingga rentangan busur panah yang merobek keheningan alun-alun istana. Melalui rentetan adegan ini, Nolan seolah ingin mengingatkan kita bahwa sering kali pesan yang paling emosional justru tersampaikan paling lantang ketika lisan memilih untuk bungkam.

The Odysseus perlahan mengupas ego sang pahlawan lewat pendekatan Teori Penetrasi Sosial rumusan Irwin Altman dan Dalmas Taylor. Konsep yang kerap dianalogikan sebagai proses mengupas lapisan kulit bawang ini tergambar jernih pada babak ketiga. Dengan menyamar sebagai pengemis berbalut jubah lusuh, Odysseus memposisikan dirinya di lapisan komunikasi paling luar—superfisial, berjarak, dan penuh kewaspadaan taktis.

Setahap demi setahap, lapisan pelindung itu ia tanggalkan saat berhadapan dengan putranya dan segelintir orang kepercayaannya. Puncaknya, lapisan terdalam yang berisikan kerentanan, keputusasaan, dan rasa bersalah, hanya berani ia buka sepenuhnya saat bertatap muka dengan Penelope. Momen reuni ini menegaskan kebenaran sosiologis bahwa keintiman sejati selalu menuntut pengungkapan diri yang paripurna, sebuah proses komunikasi interpersonal yang menyakitkan di awal namun pada akhirnya membebaskan.

Pada akhirnya, seluruh dinamika pertukaran pesan tersebut dibingkai oleh apa yang disebut Judee Burgoon sebagai Teori Pelanggaran Harapan. Di era Yunani Kuno, hukum adat yang tak tertulis mewajibkan adanya penghormatan absolut antara tamu dan tuan rumah. Ekspektasi adiluhung ini dihancurkan berkeping-keping oleh tipu muslihat Kuda Troya. Namun, bentuk pelanggaran harapan yang jauh lebih elegan justru diperagakan oleh sang Ratu, Penelope.

Ketika para bangsawan memaksanya untuk segera menanggalkan kesetiaan dan memilih pelindung baru, Penelope menolak tunduk dengan cara yang sangat halus. Ia merajut kain penentuan di siang hari, dan diam-diam mengurainya kembali di keheningan malam. Pelanggaran ekspektasi yang sunyi namun terencana ini menjadi bukti empiris bahwa kecerdasan mengelola komunikasi mampu menundukkan hegemoni kekuasaan sebesar apa pun.

Bagi kita, menyimak The Odysseus selayaknya lebih dari sekadar menikmati hiburan dan belajar filsafat kuno. Film ini adalah cermin jernih yang memantulkan rupa-rupa kompleksitas interaksi manusia. Membedahnya adalah cara kita merawat kesadaran bahwa ilmu komunikasi bukanlah sekumpulan dogma usang yang tertidur di rak perpustakaan, melainkan napas yang terus mengiringi transformasi informasi dan perilaku manusia dari zaman mitologi hingga era modern saat ini. Semoga The Odysseus mampu memantik dahaga intelektual yang sama; bahwa di balik megahnya sebuah sinema, selalu terselip keagungan ilmu kemanusiaan yang menanti untuk dieja. (*)

- Cetak Buku dan PDF-
Previous articleMairil: Tinjauan Sosiologis dan Keagamaan
Rosnindar Prio Eko Rahardjo
Rosnindar Prio Eko Rahardjo, atau akrab disapa Rossi Rahardjo, adalah dosen Kajian Film, Televisi, dan Media di Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Bahaudin Mudhary Madura. Akademisi produktif ini telah melahirkan puluhan buku, jurnal, dan artikel di media massa, termasuk buku Madura United, Laskar Sape Kerrab. Pengamat media yang gemar merajut narasi visual dan dinamika sosial ini dapat dihubungi melalui email rossirahardjo@gmail.com.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here