K-Pop

Saat mengajar saya pernah mencoba membuat pertanyaan remeh-temeh ke mahasiswa. “Sebutkan nama penyanyi di Indonesia saat ini?” Mereka berpikir hampir 30 detik untuk menyebut nama. Itu saja dengan agak kurang percaya.

Kemudian saya ganti pertanyaan, “Siapa leader BTS?”. Kontan mereka serempak menjawab cepat. Menyebutkan satu per satu nama. Bahkan posisi membernya. Saya lupa siapa nama-nama yang mereka sebut. Tetapi bukan soal namanya, tetapi kecepatan mereka menjawab.

Fenomena ini tentu bukan sekadar soal selera musik. Kasus itu menunjukkan bagaimana komunikasi massa bekerja sangat kuat dalam membentuk perhatian generasi muda.  Apalagi di era media digital, K-pop bukan lagi hanya industri hiburan Korea Selatan (Korsel). Musik itu telah  menjadi ekosistem komunikasi global yang memengaruhi cara anak muda berpikir dan berinteraksi.

Di Indonesia, pengaruh Korean Wave (sering disebut hallyu)  termasuk yang terbesar di dunia. Kementerian Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata Korea Selatan pernah melakukan survei pada tahun 2024.  Indonesia menempati posisi pertama sebagai negara dengan antusiasme tertinggi terhadap budaya Korea. 

- Poster Iklan -

Tidak tanggung-tanggung mencapai 86,3 persen. Urut-urutannya; Indonesia menduduki peringkat pertama (86,3%), diikuti oleh India (84,5%), Thailand serta Uni Emirat Arab (83,0%), dan Vietnam (82,9%). Bahkan Indonesia disebut menyumbang sekitar 18 persen pangsa pasar konsumsi K-pop global pada 2024. 

Besarnya penetrasi budaya K-pop ini menarik dibaca melalui salah satu teori komunikasi massa, yakni Spiral of Silence atau teori spiral kebisuan. Teori itu pernah  diperkenalkan Elisabeth Noelle-Neumann dari Jerman. Inti teori menjelaskan bahwa seseorang cenderung takut dikucilkan dari lingkungan sosialnya. 

Oleh karena itu, orang akan merasa lebih nyaman menyuarakan pendapat yang dianggap dominan dan memilih diam ketika merasa opininya berbeda dengan kelompok mayoritas. Dalam konteks fandom K-pop, teori ini terlihat sangat nyata.

Ruang Gema Media Sosial

Di media sosial, fandom (penggemar) bekerja seperti komunitas digital yang sangat solid. Misalnya, mereka berkumpul dalam ruang yang sama. Lalu  membentuk identitas kolektif dengan menggunakan istilah khusus. Juga sampai  memiliki budaya pertahanan terhadap idolanya. Akibatnya, opini yang berbeda sering dianggap sebagai ancaman terhadap komunitas.

Sebagai pengguna platform X hampir 20 tahun, saya bisa diamati dari fanwar (perang antar kelompok penggemar). Fanwar menjadi contoh yang paling mudah dijadikan rujukan. Ketika seseorang mengkritik penampilan, kemampuan vokal, atau perilaku seorang idol, respons yang muncul sering kali sangat agresif. Kritik tidak lagi dipandang sebagai opini biasa, tetapi dianggap serangan terhadap identitas kelompok.

Situasi ini membuat banyak pengguna media sosial memilih diam. Mereka menghindari komentar negatif terhadap idol tertentu karena takut diserang massal. Samoai ada yang takut  “di-cancel”, atau dibully secara digital. Inilah yang disebut spiral of silence. Opini minoritas perlahan menghilang karena tekanan sosial. Nah, media sosial memperkuat kondisi tersebut lewat algoritma.

Platform seperti TikTok, X, Instagram, dan YouTube cenderung menampilkan konten yang sesuai dengan preferensi pengguna. Jika seseorang sering menyukai konten K-pop, algoritma akan terus menyodorkan video fancam, , meme fandom, sampai konflik antarfans. Apa yang terjadi? Pengguna merasa bahwa dunia digitalnya memang dipenuhi K-pop dan semua orang membicarakan hal yang sama.

Lama-kelamaan tercipta apa yang disebut echo chamber atau ruang gema. Orang hanya mendengar opini yang serupa dengan keyakinannya sendiri. Di titik ini, teori Spiral of Silence menjadi semakin relevan. Ketika opini dominan terus dipantulkan dalam ruang digital yang sama, pengguna yang berbeda pandangan merasa makin kecil dan makin enggan berbicara.

Kasus tersebut juga menjelaskan mengapa fanwar K-pop di media sosial sering terlihat sangat masif. Bukan semata karena jumlah fans besar. Namun demikian karena struktur komunikasi digital membuat suara kelompok dominan terdengar jauh lebih kuat. 

Apalagi, data dari platform X menunjukkan Indonesia termasuk negara dengan aktivitas percakapan K-pop tertinggi di dunia. Terdapat sekitar 7,5 miliar unggahan terkait K-pop di X pada (2020–2021). Ini menunjukkan Indonesia menjadi salah satu pusat percakapan terbesar. Dominasi percakapan itu membuat budaya fandom semakin kuat membentuk persepsi publik.

Budaya Loyalitas Digital

Jangan heran jika politik pun mulai memanfaatkan pola komunikasi fandom K-pop. Pada Pemilu 2024 lalu, nuansa fandom dan gaya kampanye ala K-pop muncul dalam berbagai strategi komunikasi politik. Politisasi fandom bahkan dinilai memiliki pengaruh penting  terhadap pandangan Gen Z terhadap tokoh politik.

Artinya apa? Pola komunikasi fandom K-pop telah melampaui hiburan. Ia mulai memengaruhi cara generasi muda melihat isu sosial dan politik. Fenomena ini sekaligus memperlihatkan bahwa komunikasi massa modern tidak lagi berjalan satu arah seperti televisi era lama. Audiens sekarang aktif membentuk komunitas, lalu menyebarkan pesan, sampai menciptakan tekanan sosial sendiri di ruang digital.

Dalam fandom K-pop, komunikasi berlangsung sangat intensif dan cepat. Fans tidaka puas hanya menjadi konsumen konten. Tetapi mereka juga sekaligus  produsen informasi. Mereka mengedit video, ada yang menerjemahkan wawancara idol, sebagian mengatur trending hashtag. Bahkan ada yang  mengoordinasikan aksi digital global.

Kekuatan mobilisasi fandom ini bahkan pernah digunakan untuk gerakan sosial. Komunitas penggemar K-pop global ikut terlibat dalam kampanye isu lingkungan. Ingat tragedi Kanjuruhan tahun 2022? Fandom K-Pop mampu mengumpulkan total donasi lebih dari Rp1 miliar dalam waktu singkat. 

Namun demikian  fanatisme digital juga menyimpan risiko. Saat identitas seseorang terlalu melekat pada fandom, kritik terhadap idol bisa terasa seperti kritik terhadap diri sendiri. Akibatnya, ruang diskusi menjadi semakin sempit. Orang tidak lagi fokus pada argumentasi, tetapi pada loyalitas kelompok.

Gen Z perlu memahami bahwa algoritma media sosial tidak selalu menunjukkan realitas secara utuh. Apa yang muncul di timeline hanyalah hasil penyaringan teknologi berdasarkan kebiasaan pengguna. Ketika seseorang terus berada dalam ruang gema yang sama, ia bisa kehilangan perspektif lain.

Teori Spiral of Silence membantu menjelaskan mengapa media sosial sering terasa bising yang  tidak selalu mencerminkan keberagaman opini. Yang terdengar keras biasanya hanyalah kelompok yang paling dominan dan paling aktif.

Apapun yang terjadi, K-pop menjadi contoh menarik karena ia memperlihatkan bagaimana budaya populer dapat membentuk perilaku komunikasi generasi digital.  K-pop berkembang menjadi sistem komunikasi global yang memproduksi identitas, solidaritas kelompok, tekanan sosial, hingga mobilisasi massa.

Maka, pertanyaan tentang Gen Z yang lebih mengenal idol K-pop dibanding nama menteri sebenarnya bukan sekadar lelucon internet. Ia adalah cermin perubahan pola komunikasi masyarakat modern.

Saat ini, perhatian publik tidak lagi sepenuhnya ditentukan media konvensional. Timeline media sosial, fandom digital, dan algoritma platform telah menjadi aktor baru dalam komunikasi massa. K-pop adalah salah satu contoh paling nyata bagaimana kekuatan itu bekerja di hadapan kita.

- Cetak Buku dan PDF-

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here