اِدْفِنْ وُجُودَكَ فِي أَرْضِ الْخُمُولِ، فَمَا نَبَتَ مِمَّا لَمْ يُدْفَنْ لَا يَتِمُّ نِتَاجُهُ.

“Pendamlah dirimu di tanah khumul. Sebab, sesuatu yang tumbuh tanpa terlebih dahulu tertanam, tidak akan pernah menghasilkan buah yang sempurna.” — Kitab Hikam karya Ibn ‘Athaillah al-Sakandari

Kita hidup pada zaman yang menarik, sekaligus membingungkan.

Hari ini, ukuran seseorang sering kali bukan lagi apa yang ia kerjakan, melainkan seberapa sering wajahnya muncul di layar. Jumlah follower dianggap lebih berdampak daripada jumlah murid dan karya.

Potongan video berdurasi satu menit lebih cepat membangun reputasi dibandingkan puluhan tahun menghabiskan usia di depan kitab. Algoritma perlahan menjadi “pemberi legitimasi” baru. Yang viral dianggap paling benar. Yang paling sering tampil dianggap paling alim.

Fenomena ini tidak hanya terjadi pada dunia hiburan atau politik. Dunia dakwah pun perlahan mengalami gejala yang sama. Tidak sedikit orang berlomba membangun personal branding dengan atribut kesalehan. Kamera menyala sebelum majelis dimulai. Konten dipikirkan sebelum ilmu diperdalam. Bahkan, terkadang kehidupan di depan kamera tampak jauh lebih rapi daripada kehidupan yang sebenarnya.

- Poster Iklan -

Masyarakat pun mulai lelah, resah, jenuh, bahkan cenderung muak.

Bukan lelah mendengar ceramah, melainkan lelah melihat pertunjukan. Mereka haus pada ketulusan. Mereka rindu sosok yang bekerja tanpa banyak berbicara tentang dirinya. Mereka ingin menemukan kembali ulama yang dikenal karena ilmunya, bukan karena popularitasnya.

Di tengah kegaduhan itulah, muncul seorang lelaki yang nyaris tidak pernah mengejar panggung.

Namanya Ibnu Harjo al-Jawi. Banyak orang lebih mengenalnya dengan panggilan Mbah Riyan Al-Mastury.

Ironisnya, justru karena tidak ingin dikenal, namanya mulai dikenal banyak orang.

Siang Mengaduk Semen, Malam Menyunting Warisan Ulama

Jika seseorang bertemu Mbah Riyan di sebuah proyek bangunan, barangkali tidak ada yang menyangka bahwa lelaki sederhana itu adalah seorang peneliti manuskrip Islam yang tekun dan produktif.

Pekerjaan hariannya adalah tukang. Iya. Dia seorang kuli bangunan.

Ia mengangkat pasir. Mengaduk semen. Memasang batu bata. Bekerja sebagaimana pekerja kasar pada umumnya. Namun ketika malam tiba, dunianya berubah.

Yang membuat Mbah Riyan menarik bukan sekadar karena beliau bekerja sebagai tukang bangunan. Banyak orang hidup sederhana. Banyak pula yang tekun mengaji. Akan tetapi, sangat sedikit yang mampu mengubah kesunyian menjadi pusat produksi ilmu.

Di balik sosok yang lebih akrab memanggul semen daripada memanggul popularitas itu, lahir lebih dari seratus karya ilmiah dan edisi kritis kitab turats. Tidak kurang dari dua belas kitab yang berhasil ia selesaikan—sebuah capaian yang bahkan tidak mudah diraih oleh akademisi yang bekerja penuh waktu di perguruan tinggi.

Bidang yang digelutinya pun bukan tema-tema ringan. Ia memasuki wilayah yang menuntut ketelitian luar biasa: ushul fikih, fikih, hadis, akidah, hingga tasawuf. Di antara karya yang banyak dirujuk ialah Al-Istihsan, Haqiqotuhu wa Hujjiyyatuhu (Ushul fikih), Dilalah Qarinah al-Muwadhabah ‘Inda al-Ushuliyyin (Ushul fikih), Radd al-Hadits al-Dha’if bi al-Kulliyyah Fitnah Kabirah Mu’ashirah (Ilmu hadis), Ta’liq Is’af al-Muthali’ karya Syekh Mahfudz at-Tarmasi (Tahqiq dan anotasi), Tahqiq al-Kalimat fi al-Ushul al-Fiqhiyyat (Tahqiq), Al-Taufiq al-Jaliy Bain al-Asy’ari wa al-Hambali (Tahqiq), Al-Dzakha’iral-Qudsiyyah fi Ziyarah Khair al-Bariyyah (Tahqiq), Al-Tuhfah al-Mardhiyyah fi Jawaz Tafsir al-Qur’an bi al-A’jamiyyah (Tafsir), Tuhfah al-Nubala’ fi Tafahhumi Hukmi Taqbil Dharaih al-Auliya’ (Fikih), Sualatal-Nabiy fi Shahih al-Bukhari (Hadis), dan masih banyak lagi.

Setiap karya lahir melalui proses panjang: membandingkan manuskrip, menelusuri varian bacaan, memverifikasi kutipan, hingga menyusun aparatus ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan.

Yang lebih mengagumkan, kitab-kitab itu tidak berhenti di rak perpustakaan rumahnya. Ia beredar, dibaca, dikutip, dan dijadikan rujukan oleh peneliti, akademisi, serta ulama di berbagai negara. Dalam arti tertentu, gagasan yang lahir dari sebuah rumah sederhana di Kudus ikut mengalir ke ruang-ruang kuliah, forum bahtsul masail, lembaga riset, hingga pusat-pusat studi Islam di berbagai belahan dunia.

Di sinilah kita menemukan sebuah ironi yang indah. Pada saat sebagian orang bekerja keras agar namanya dikenal, Mbah Riyan justru bekerja keras agar naskah-naskah ulama terdahulu kembali dikenal. Ia tidak sedang membangun popularitas dirinya, melainkan membangun jembatan yang menghubungkan generasi hari ini dengan khazanah keilmuan Islam klasik.

Mungkin inilah hakikat khumul. Yang disembunyikan bukan manfaatnya, melainkan egonya. Yang dikecilkan bukan kontribusinya, melainkan keinginannya untuk selalu terlihat. Sebab dalam tradisi ilmu, sejarah sering kali lebih lama mengingat karya daripada wajah pengarangnya.

Ia melakukan tahqiq. Meneliti setiap kata. Membandingkan berbagai manuskrip. Memberikan catatan ilmiah. Menghidupkan kembali karya para ulama agar dapat dinikmati generasi hari ini dan yang akan datang.

Inilah paradoks yang indah. Siang hari ia membangun rumah manusia. Malam hari ia membangun rumah ilmu.

Barangkali bangunan yang ia dirikan suatu saat akan lapuk dimakan usia. Namun kitab yang ia sunting mungkin akan terus dibaca puluhan, bahkan ratusan tahun setelah dirinya tiada.

Mengapa Memilih Jalan Sunyi?

Pertanyaan ini mungkin muncul di benak banyak orang.

Dengan kapasitas keilmuan seperti itu, bukankah lebih mudah baginya menjadi penceramah terkenal? Mengisi televisi? Membuka kanal YouTube? Mengumpulkan jutaan pengikut?

Jawabannya justru terletak pada satu kata yang hari ini semakin asing: khumul.

Dalam tradisi tasawuf, khumul bukan berarti mengasingkan diri dari masyarakat. Bukan pula anti terhadap publikasi. Khumul adalah memilih agar perhatian manusia tidak menjadi tujuan utama.

Yang dijaga bukan sekadar nama baik, tetapi juga kebersihan niat.

Seorang yang khumul tidak takut dikenal. Ia hanya takut jika dikenal menjadi tujuan hidupnya.

Karena itu, ketika dikabarkan memperoleh penghargaan dari MUI Award 2026 kategori Karya Tulis Islam, beredar cerita bahwa beliau memilih tidak hadir. Bukan karena tidak menghormati MUI, tetapi karena merasa tidak nyaman dengan keramaian dan sorotan kamera. Terlepas dari kebenaran fakta detail kisah tersebut, kabar yang beredar dan disampaikan oleh orang-orang terdekatnya menggambarkan karakter yang selama ini melekat pada dirinya: menjauhi syuhrah atau syndrom ingin terkenal.

Sikap seperti ini bukan sesuatu yang lahir tiba-tiba. Ia tumbuh dari tradisi pesantren yang panjang.

Pesantren Mengajarkan Ilmu, Bukan Panggung

Ada satu warisan besar pesantren yang sering luput dibicarakan: adab untuk tidak tergesa-gesa mencari ketenaran.

Di pesantren, seorang santri diajarkan duduk bertahun-tahun di hadapan guru. Membaca kitab yang sama berulang kali. Mengulang matan. Menyalin catatan. Menghafal. Mengoreksi. Bersabar.

Tidak ada kamera. Tidak ada tepuk tangan. Tidak ada trending topic.

Yang ada hanyalah proses panjang yang sering kali tidak diketahui siapa pun.

Tradisi inilah yang melahirkan banyak ulama besar Nusantara. Nama mereka mungkin baru dikenal setelah puluhan tahun mengajar. Bahkan sebagian baru benar-benar dihargai setelah wafat.

Mbah Riyan tampaknya sedang melanjutkan mata rantai tradisi itu.

Dramaturgi: Ketika Kehidupan Berubah Menjadi Panggung

Sosiolog Erving Goffman pernah menjelaskan bahwa kehidupan manusia menyerupai sebuah pertunjukan teater. Ada front stage, tempat seseorang menampilkan citra terbaiknya di depan publik. Ada pula back stage, ruang privat tempat seseorang menjadi dirinya sendiri.

Masalahnya, media sosial membuat batas antara keduanya semakin kabur.

Hari ini banyak orang sibuk mempercantik front stage. Foto dipilih dengan hati-hati. Video diedit sedemikian rupa. Kalimat disusun agar tampak bijaksana. Bahkan ibadah pun terkadang berubah menjadi konten.

Tidak salah menggunakan media sosial untuk berdakwah. Yang perlu diwaspadai adalah ketika dakwah perlahan berubah menjadi industri citra.

Di sinilah sosok seperti Mbah Riyan terasa kontras.

Front stage beliau hampir tidak terlihat. Tetapi back stage-nya penuh dengan kerja ilmiah.

Ia tidak sibuk mengabadikan dirinya sedang costplay membaca kitab. Ia benar-benar membaca kitab.

Ia tidak sibuk membuat konten tentang manuskrip. Ia menyelamatkan manuskrip itu sendiri.

Bukankah ini ironi zaman?

Sebagian orang dikenal karena sering berbicara tentang ilmu.

Sebagian lain hampir tidak pernah berbicara tentang dirinya, tetapi ilmunya berbicara melalui karya.

Membangun Peradaban Tanpa Sorotan

Mungkin persoalan terbesar hari ini bukanlah kekurangan ulama. Yang sedang kita alami adalah krisis cara mengenali ulama.

Hari ini, Sering kali orang awam lebih mudah mengukur kealiman melalui: jumlah pengikut, jumlah penonton, jumlah undangan, dan jumlah konten.

Padahal tradisi Islam memiliki ukuran yang berbeda.

Keilmuan diukur dari sanad. Ketelitian. Akhlak. Tawadlu. Keikhlasan. Ketekunan. Karya ilmiah. Serta kesediaan untuk terus belajar.

Popularitas memang bisa diperoleh dalam hitungan bulan. Namun otoritas keilmuan dibangun oleh waktu yang panjang.

Algoritma dapat membuat seseorang viral. Tetapi algoritma tidak mampu menciptakan kedalaman ilmu.

Barangkali inilah pelajaran terbesar dari Mbah Riyan. Beliau menunjukkan bahwa seseorang tidak harus terkenal untuk memberi manfaat besar.

Tidak semua ulama harus menjadi selebritas. Tidak semua ilmuwan harus menjadi influencer. Tidak semua kebaikan membutuhkan kamera.

Peradaban Islam justru dibangun oleh ribuan orang yang namanya mungkin tidak pernah masuk berita. Para penyalin kitab. Para pentahqiq manuskrip. Para guru kampung. Para pengajar madrasah. Mereka bekerja dalam diam. Mereka yang mengabdi tanpa pamrih namun hasil kerjanya dinikmati banyak orang.

Mereka mungkin tidak memiliki jutaan pengikut. Namun mereka meninggalkan jutaan manfaat.

Kembali Menanam Benih

Ibn ‘Athaillah mengingatkan bahwa benih yang tidak ditanam dengan baik tidak akan menghasilkan buah yang sempurna.

Kalimat itu terasa sangat relevan hari ini. Barangkali kita terlalu sibuk ingin cepat berbuah, tetapi lupa menjadi benih.

Terlalu ingin dikenal sebelum benar-benar siap memberi manfaat. Terlalu ingin tampil sebelum selesai ditempa.

Mbah Riyan mengingatkan bahwa jalan sunyi bukanlah jalan yang kalah. Justru di sanalah banyak pohon besar memulai hidupnya—terkubur, tidak terlihat, tetapi diam-diam menumbuhkan akar yang kuat.

Ketika dunia berlomba mengejar sorotan, beliau memilih menjaga niat. Ketika banyak orang membangun citra, beliau membangun karya. Ketika sebagian sibuk menghitung jumlah penonton, beliau sibuk memastikan setiap baris kitab yang ditahqiqnya dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Mungkin inilah makna khumul yang sesungguhnya: bukan menghilang dari dunia dan egois tidak melakukan apa-apa, melainkan menyembunyikan ego agar ilmu tetap menjadi cahaya, bukan alat mencari tepuk tangan.

Dan di zaman ketika panggung terasa lebih ramai daripada perpustakaan, jalan sunyi seperti yang dipilih Mbah Riyan justru menjadi suara yang paling nyaring.

- Cetak Buku dan PDF-

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here