Awang Dharmawan

Bayangkan sebuah pesawat luar angkasa jatuh bukan di New York, bukan pula di padang Alaska,  melainkan di tengah kampung Bulak Banteng, Surabaya Utara. Kawasan ini dikenal dengan komunitas urban dari Madura yang diantaranya menjual besi tua dan barang bekas. Bagi Hollywood, kejatuhan pesawat luar angkasa mungkin segera dikepung tentara. Tapi dalam film Foufo, benda dari luar angkasa itu justru masuk ke dunia orang-orang yang setiap hari akrab dengan besi, rongsokan, kemiskinan, keluarga, harga diri, dan mimpi sederhana. Ide cerita itu terdengar ringan, namun jika dibaca lebih dalam, Foufo sedang bermain di wilayah yang sensitif yaitu cara masyarakat Indonesia membayangkan Madura.

Madura, Besi, dan Lelucon yang Sudah Terlalu Lama Beredar

Ada stigma yang menghubungkan orang Madura dengan besi tua dan rongsokan, yaitu sebagai tanda kemiskinan bahkan juga kriminalitas. Narasi semacam ini terus muncul dalam percakapan di media sosial. Sehingga persoalannya pada cara berpikir generalisasi yang keliru, ketika tindakan beberapa orang dilekatkan kepada seluruh kelompok etnis, perilaku individual berubah menjadi label kolektif. 

Foufo tidak menghindar dan bahkan masuk menjelaskan stigma Madura tersebut. Figur Muslim sebagai tokoh utama memang hidup dari rongsokan, bahkan ada adegan ketika Muslim, Kacong, dan Ipul mencuri besi rel kereta, lalu dikagetkan dengan kejatuhan pesawat luar angkasa. Mereka tinggal di kampung yang perputaran ekonominya dari barang bekas. Bahkan kelucuan tentang benda luar angkasa secara otomatis bertemu dengan imajinasi tentang nilai harga besi. Film seolah berkata bahwa stereotip itu sudah terlanjur ada, mari kita bawa sekalian dalam diskrsus yang manusiawi dan dielaktik.

Di sini Foufo mempunyai dua kemungkinan. Pertama, bisa membongkar stereotip dengan cara menertawakannya. Penonton diajak melihat bahwa di balik label orang besi tua ada keluarga, kerja keras, rasa malu, solidaritas, dan keinginan membahagiakan orang tua. Sejumlah ulasan memang membaca Foufo sebagai upaya memperlihatkan komunitas Madura secara lebih manusiawi dan tidak berhenti pada stigma lama. Tetapi ada kemungkinan kedua yaitu film ini justru tanpa sengaja mengulang stereotip yang ingin dikritiknya. Sebab gambar rongsokan, keterbatasan ekonomi, dan identitas Madura tetap hadir bersama dalam layar. Inilah paradoks representasi untuk melawan sebuah stigma, film sering kali harus menampilkan stigma itu terlebih dahulu.

- Poster Iklan -
Kemiskinan Itu Nyata, tetapi Bukan Identitas

Dalam kerangka Niklas Luhmann, bagian tentang kemiskinan dalam Foufo akan lebih mudah dipahami jika kita memisahkan realitas kemiskinan dari cara media mengomunikasikan kemiskinan. Bagi Luhmann, media tidak sekadar memindahkan kenyataan sosial ke layar film. Media selalu melakukan seleksi, dari sekian banyak kenyataan tentang Madura, sisi mana yang dipilih untuk ditampilkan, diberi perhatian, dan kemudian dibicarakan.

Dalam Foufo, kesulitan ekonomi Muslim dipilih sebagai bagian penting cerita. Ia membutuhkan uang untuk membantu melunasi biaya haji ibunya, hidup di lingkungan yang berkaitan dengan barang bekas, lalu berhadapan dengan kedatangan Foufo yang membuka kemungkinan perubahan nasib. Melalui pilihan cerita seperti ini, kemiskinan menjadi informasi yang menarik bagi sistem media karena dapat menghasilkan konflik, humor, harapan, dan drama.

Menurut cara berpikir Luhmann, perubahan makna tersebut terjadi karena komunikasi tidak berhenti pada film. Film menghasilkan komunikasi baru di luar dirinya. Media berita menulis tentangnya, kritikus mengulasnya, penonton mengomentarinya, dan pengguna media sosial membuat potongan video, meme, atau lelucon. Setiap komunikasi baru memilih bagian tertentu dari Foufo yang dianggap menarik. Jadi, film tidak dapat sepenuhnya mengendalikan bagaimana kemiskinan Madura akan dipahami setelah film beredar.

Di sinilah konsep resonansi membantu membaca Foufo. Film ini memberikan sebuah rangsangan komunikasi tentang sosok Muslim, keluarga, rongsokan, kesulitan ekonomi, dan alien. Rangsangan itu kemudian beresonansi ke dalam sistem media. Media dapat merespons dengan mengatakan bahwa Foufo menggambarkan perjuangan keluarga miskin. Media lain mungkin menekankan representasi budaya Madura. Penonton mungkin melihatnya sebagai komedi. Sementara sebagian orang mungkin justru menghubungkannya kembali dengan stereotip Madura, besi tua, dan kemiskinan. Dengan demikian, resonansi tidak berarti bahwa semua orang memahami Foufo dengan cara yang sama. Justru sebaliknya. Satu film dapat menghasilkan banyak komunikasi yang berbeda.

Luhmann telah mengajak kita menggeser pertanyaan yang bukan sekedar, Apakah Foufo benar menggambarkan kemiskinan Madura? Tapi pertanyaan yang lebih penting adalah bagaimana sistem media mengubah gambaran kemiskinan dalam Foufo menjadi informasi tentang Madura? Perubahan pertanyaan ini penting, sebab Foufo sebenarnya menampilkan seorang manusia yang berada dalam kondisi ekonomi tertentu. Muslim memiliki ibu, keluarga, keinginan, humor, harga diri, dan harapan. Namun sistem media dapat melakukan penyederhanaan tentang sosok Muslim. Dari seluruh kompleksitas kehidupan Muslim, media mungkin hanya memilih rongsokan dan kemiskinan karena dua hal tersebut dianggap menarik atau mudah dikenali.

Jika pilihan semacam itu terus berulang, lama-kelamaan terbentuk apa yang dapat kita sebut sebagai realitas media tentang Madura. Masyarakat kemudian merasa mengenal Madura bukan terutama dari pengalaman langsung, melainkan dari komunikasi yang berulang. Madura sebagai daerah tertinggal, kriminal, keras, dan berbagai label lainnya. Padahal, dalam logika Luhmann, yang sedang kita lihat sebenarnya bukan Madura sebagaimana adanya, tetapi Madura sebagaimana dikonstruksi melalui komunikasi.

Maka itulah kalimat Muslim bukan persentase kemiskinan menjadi penting. Kalimat tersebut dapat dibaca sebagai kritik terhadap kecenderungan media mereduksi manusia menjadi kategori. Statistik membutuhkan angka untuk menjelaskan kondisi sosial. Film membutuhkan tokoh dan konflik untuk membangun cerita. Media membutuhkan informasi yang dianggap menarik. Tetapi manusia selalu lebih kompleks daripada ketiga bentuk tersebut.

Justru di sinilah Foufo dapat menghasilkan resonansi yang produktif. Film dapat membuat penonton tidak hanya melihat kemiskinan, tetapi juga mengamati cara mereka sendiri melihat kemiskinan. Penonton dapat mulai bertanya, mengapa ketika melihat rongsokan saya langsung menghubungkannya dengan Madura? Mengapa ketika melihat keluarga miskin dalam film saya cenderung membayangkan kemiskinan sebagai karakter suatu kelompok? Dari mana gambaran itu berasal? Dalam istilah Luhmann, ini sudah mendekati pengamatan tingkat kedua. Kita tidak lagi hanya mengamati Muslim sebagai orang miskin. Kita mulai mengamati bagaimana media dan penonton mengamati Muslim dan Madura.

Ketika Film Selesai, Media Mulai Bekerja

Kehidupan Foufo tidak berhenti ketika lampu bioskop menyala. Setelah film selesai, sistem media mulai bekerja. Di sinilah gagasan sosiolog Jerman yaitu Niklas Luhmann membantu kita melihat persoalan dengan cara berbeda. Bagi Luhmann, media massa bukan sekadar kaca yang memantulkan kenyataan di luar sana. Media melakukan seleksi, membentuk komunikasi, dan dengan cara itu ikut menghasilkan realitas yang dapat diamati masyarakat. Sistem media terus membedakan apa yang menjadi informasi dan apa yang bukan informasi. 

Sebagian media membaca film Foufo ini sebagai keberanian mengangkat budaya Madura secara lebih manusiawi. Ada ulasan yang menekankan bahasa Madura, hubungan keluarga, solidaritas, dan perlawanan terhadap stigma. Ada pula pembacaan yang melihat humor tentang rongsokan dan besi sebagai cara frontal memainkan stigma yang selama ini melekat pada masyarakat Madura. Perbedaan pembacaan tentang film foufo itu bukanlah suatu gangguan, justru ini yang dinamakan resonansi. 

Dalam bahasa sederhana, resonansi terjadi ketika sebuah komunikasi menghasilkan getaran pada komunikasi lain. Termasuk artikel ini merupakan resonansi tentang sudut pandang tentang budaya Madura dalam pendekatan sistem. Film menghadirkan sebuah cerita, dan berita mengubahnya menjadi informasi. Ulasan mengubahnya menjadi penilaian. Media sosial dapat mengubahnya lagi menjadi komentar, potongan adegan, candaan, dukungan, perdebatan, bahkan kritik dan seterusnya. Masing-masing tidak sekadar menyalin cerita Foufo. Mereka yang menarasikan dan memaknai Foufo memprosesnya dengan logikanya sendiri. Karena itu, makna Foufo tidak pernah benar-benar tinggal di dalam film.

Foufo yang ditonton di bioskop adalah satu peristiwa komunikasi. Foufo yang muncul sebagai judul berita adalah komunikasi lain. Foufo yang disebut sebagai film yang melawan stereotip Madura adalah komunikasi berikutnya. Demikian pula Foufo yang kemudian dijadikan bahan candaan tentang besi. Komunikasi-komunikasi itu saling memicu, memperkuat, mengoreksi, atau bahkan membelokkan makna. Media dengan kata lain,membuat film hidup jauh lebih panjang daripada durasi dua jamnya.

Di sinilah Foufo menjadi menarik bukan hanya sebagai film, tetapi sebagai peristiwa sosial. Film ini membuka kemungkinan agar masyarakat mengamati cara masyarakat selama ini mengamati Madura. Kita tidak lagi hanya melihat Muslim, keluarganya, rongsokan, dan alien. Kita sekaligus dapat melihat kebiasaan kita sendiri dalam memberikan label.

Foufo tentu tidak otomatis menghapus stereotip. Satu film tidak mempunyai kekuatan sebesar itu. Tetapi sebuah film dapat mengganggu cara pandang yang sudah mapan, yaitu membuat stereotip kembali terlihat sebagai stereotip bukan sebagai kenyataan yang alamiah. Dari gangguan itulah percakapan baru muncul.

Dan ketika percakapan tersebut bergerak dari layar bioskop menuju berita, ulasan, ruang kelas, media sosial, hingga obrolan sehari-hari, Foufo menghasilkan resonansi dalam sistem media. Bukan karena semua orang akhirnya sepakat mengenai Madura, melainkan karena masyarakat terdorong melihat kembali bagaimana gambaran tentang Madura selama ini dibuat, diulang, dipertahankan, diperdebatkan, dan mungkin diubah melalui komunikasi. Pada akhirnya, Foufo bukan hanya cerita tentang alien yang tersesat di dunia manusia. Lebih dari itu juga cerita tentang manusia yang kadang tersesat di dalam stereotipnya sendiri.

- Cetak Buku dan PDF-

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here