sosial media

Di era media sosial, manusia tampaknya makin terbuka. Namun entah mengapa hal itu kadang terasa setengah-setengah. Orang bisa membagikan isi pikirannya kapan saja lewat story, reel, atau unggahan singkat di beberapa platform digital. Kesedihan, kekecewaan, rasa marah, bahkan persoalan pribadi sering muncul di layar gawai dalam hitungan detik. Namun ironinya, di saat bersamaan, banyak orang malah mengalami kesulitan saat harus berbicara langsung tentang perasaan mereka ke orang terdekat.

Fenomena ini menjadi gambaran akan perubahan dalam cara kita berkomunikasi, khususnya berkomunikasi secara interpersonal. Media sosial memang memberi ruang untuk mengekspresikan emosi, tapi tidak selalu menghadirkan kedekatan emosional yang nyata. Seseorang bisa terlihat begitu aktif bercerita di internet, tetapi tetap saja canggung ketika harus mengucapkan, “Aku sedang tidak baik-baik saja,” secara langsung ke sahabat, pasangan, atau keluarganya sendiri. Seperti ada jarak tipis yang tak terlihat namun terasa. 

Salah satu sebabnya adalah media sosial menciptakan ilusi kedekatan. Kita merasa terhubung dengan banyak orang karena saling mengikuti akun, memberi like, atau membalas story. Padahal, kedekatan di ranah digital tidak otomatis sama dengan kedekatan emosional. Followers itu bukan selalu teman dekat, bahkan bisa saja cuma penonton yang tahu garis besarnya saja. Mereka mungkin hafal aktivitas harian kita tetapi tidak betul-betul paham apa yang sebenarnya sedang kita rasakan.

Budaya validasi digital

Dalam budaya validasi digital, like dan komentar sering dianggap sebagai tanda perhatian, seolah-olah simbol tersebut merupakan bukti dukungan. Tetapi dukungan emosional yang benar-benar hadir, sejatinya tidak berhenti di simbol jempol atau emoji hati. Dalam komunikasi interpersonal, manusia sebenarnya perlu kehadiran yang lebih utuh, bukan cuma respons cepat melainkan juga mendengarkan, memahami, dan memberi semacam ruang aman agar seseorang bisa bercerita tanpa takut. Sayangnya di media sosial perhatian itu acapkali terasa instan dan dangkal. 

- Poster Iklan -

Obrolan yang lebih dalam pun makin jarang. Salah satu penyebabnya rentang perhatian yang semakin sempit. Budaya digital itu seperti melatih kita supaya serba cepat, lalu langsung geser, sampai percakapan yang serius tidak benar-benar terjadi. Lalu akhirnya muncul fenomena keterbukaan digital dimana kita bisa bercerita apa saja namun mengalami kesusahan untuk merangkai dialog yang mendalam ketika berhadapan langsung di dunia nyata. 

Di sisi lain, muncul pula fenomena emotional dumping, yaitu meluapkan emosi secara intens kepada orang lain tanpa mempertimbangkan kesiapan emosional penerimanya. Dalam dunia digital, emotional dumping sering terjadi melalui unggahan panjang, status penuh emosi, atau pesan mendadak yang berisi ledakan perasaan. Internet akhirnya menjadi ruang pelampiasan emosi yang terbuka untuk siapa saja.

Fenomena ini tidak muncul tanpa alasan. Banyak orang merasa media sosial lebih aman dibanding percakapan langsung. Di internet, seseorang bisa menulis tanpa harus melihat ekspresi lawan bicara. Tidak ada tatapan mata yang membuat canggung, tidak ada jeda hening yang terasa menekan. Media sosial memberi ilusi bahwa seseorang sedang didengar, meskipun sebenarnya ia hanya sedang dilihat.

Namun di balik kemudahan itu, batas privasi menjadi semakin kabur. Hal-hal yang dulu dianggap personal kini menjadi konsumsi publik. Konflik hubungan, masalah keluarga, hingga kondisi kesehatan mental sering dibagikan secara terbuka. Tidak sedikit orang akhirnya sulit membedakan mana ruang pribadi dan mana ruang publik.

Keterbukaan digital memang kadang memberi efek lega karena seseorang merasa berhasil mengekspresikan emosinya. Akan tetapi, keterbukaan yang berlebihan juga memiliki dampak psikologis. Ketika hidup terlalu sering dipertontonkan, seseorang bisa menjadi semakin bergantung pada validasi digital. Respons orang lain seperti like, komentar, atau jumlah penonton story, perlahan menjadi ukuran apakah perasaannya dianggap penting atau tidak.

Selain itu, oversharing juga dapat menimbulkan penyesalan. Apa yang diunggah saat emosi memuncak sering meninggalkan jejak digital yang sulit dihapus. Tidak semua orang di internet benar-benar peduli. Sebagian hanya melihat sekilas, sebagian lain bahkan menghakimi. Jangankan mendapat pemahaman, seseorang justru bisa merasa semakin kosong setelah terlalu banyak membuka diri di ruang digital.

Phubbing menjadi hal biasa

Fenomena ini pada akhirnya memengaruhi kualitas hubungan interpersonal. Di tengah derasnya komunikasi digital, banyak hubungan menjadi semakin dangkal. Percakapan sehari-hari dipenuhi small talk tanpa hubungan emosional yang nyata. Orang saling bertanya “lagi apa?” atau “udah makan belum?”, tetapi jarang benar-benar bertanya, “Apa yang sebenarnya sedang kamu rasakan?”

Lebih jauh lagi, manusia perlahan kehilangan kemampuan mendengarkan. Banyak orang lebih sibuk menunggu giliran bicara daripada memahami lawan bicara. Ketika bercakap-cakap dalam relasi interpersonal, perhatian kita mudah terpecah oleh notifikasi, media sosial, atau keinginan untuk segera memberi respons. Akibatnya, komunikasi menjadi cepat tetapi miskin kedalaman.

Padahal mendengarkan adalah inti dari komunikasi interpersonal yang sehat. Mendengarkan bukan sekadar diam ketika orang lain berbicara, tetapi memberi perhatian penuh tanpa gangguan. Namun sayangnya di era digital seperti sekarang, fokus menjadi sesuatu yang mahal. Tidak sedikit orang berbicara sambil memeriksa ponsel, mengetik pesan lain, atau scrolling media sosial. Kehadiran fisik ada, tetapi kehadiran emosional menghilang. Istilah dalam komunikasi, fenomena ini disebut dengan phubbing. Istilah phubbing berasal dari gabungan kata phone dan snubbing, yaitu perilaku mengabaikan orang di sekitar karena lebih fokus pada ponsel

Oleh karena itu untuk memunculkan relasi interpersonal yang lebih sehat maka kualitas percakapan perlu dibangun kembali secara sadar. Salah satu langkah sederhana adalah belajar mendengar tanpa gangguan atau distraksi. Menyimpan ponsel sejenak ketika berbicara dengan seseorang mungkin terdengar sepele tetapi itu adalah bentuk penghargaan emosional yang besar. Di sisi lainnya, mengurangi multitasking saat berbicara juga penting. Percakapan yang bermakna membutuhkan perhatian utuh. Seseorang tidak bisa benar-benar memahami emosi lawan bicara jika pikirannya terus berpindah ke layar lain.

Yang tidak kalah penting lainnya adalah belajar kembali membiasakan percakapan reflektif. Bukan hanya berbicara tentang hal-hal permukaan, tetapi juga memberi ruang untuk membahas perasaan, keresahan, dan pengalaman hidup secara lebih mendalam. Percakapan reflektif membantu manusia merasa benar-benar dipahami, bukan sekadar ditemani berbicara.

Pada akhirnya, secanggih apa pun teknologi berkembang, manusia tetap membutuhkan ruang untuk didengar secara nyata. Media sosial mungkin mampu memberi perhatian sementara tetapi kedekatan yang sesungguhnya lahir dari kehadiran, empati, dan kesediaan untuk mendengarkan satu sama lain secara utuh dan tanpa distraksi.

 

- Cetak Buku dan PDF-

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here