Mokhammad Nafi

Suatu pagi, saya mendapatkan pesan whatsapp dari Mbah Nafi’, sapaan akrab KH. Mokhammad Nafi Al Hikam di Malang. “Ada judul baru yang perlu dicangkrukkan setelah noise vs voice,” dawuh Mbah Nafi’. Saya penasaran dan kemudian bertanya tentang topik lanjutannya. Mbah Nafi’ menjawab, “Otomatisasi Pixel”. Sambil mengirim emot lucu.

Sebagaimana biasanya obrolan kami, baik melalui whatsapp maupun cangkruk (kopdar: kopi darat), diawali dengan topik yang ringan, tentang hiruk-pikuk media sosial. Tentang tembakau. Dan, sesekali, tentang Nahdlatul Ulama atau isu-isu krusial seputar pesanten dan tantangan hidup umat Islam.

“Hari ini manusia tidak lagi melihat dunia,” kata Mbah Nafi. “Mereka hanya melihat pantulan pixel yang sudah diatur oleh algoritma. Dan, yang menakutkan, mereka tidak sadar mengenai itu.” Mbah Nafi’ kemudian mengirimkan hasil diskusi digitalnya dengan AI google gemini. Saya pelan-pelan pelajari dan terlibat dalam “perenungan” bersama AI tersebut. Saya juga kaitkan dengan topik obrolan sebelumnya tentang noise vs voice yang sudah saya tulis dalam artikel sebelumnya.

Otomatisasi pixel. Inilah kata kuncinya. Dalam gambaran Mbah Nafi, otomatisasi pixel merupakan kondisi layar, entah itu ponsel, media sosial, atau algoritma AI, yang menyajikan realitas buatan yang sudah dipotong-potong menjadi serpihan informasi kecil. Realitas buatan ini kemudian “dihidangkan” (supply) langsung ke kepala kita secara otomatis. Tanpa didahului permintaan (demand). Bahkan, tidak didasarkan pada kebenaran, melaikan berdasarkan apa yang paling bikin kita betah menatap layar lebih lama. Sistem ini tidak peduli apakah yang kita konsumsi itu benar atau salah, bergizi atau racun. Yang penting, perhatian kita tersita. Alhasil, noise berupa kebisingan, kontroversi, sensasi, dan pamer jauh lebih mendominasi dibanding voice: suara kebenaran, hikmah, dan kejernihan batin. Kita tahu ada sesuatu yang salah, tapi tidak tahu dari mana memulai untuk memperbaikinya.

- Poster Iklan -

Mbah Nafi’ lalu mengajak saya melihat akar masalahnya. Menurut beliau, ada tiga instrumen pandu arah atau “navigasi batin” yang pelan tapi pasti dirampas oleh otomatisasi pixel. Yaitu, jarak pandang (line of sight), sudut pandang (point of view), dan cara pandang (perspective).

Pertama, jarak pandang. Dalam tasawuf, jarak pandang itu tidak diukur dengan meter atau kilometer. Ia diukur dengan sesuatu yang jauh lebih halus: tingkat kesadaran spiritual dan kebersihan hati.

Ada dua kutub di sini. Pertama, qurb yang artinya kedekatan. Ini adalah kondisi di mana jarak antara hamba dan Tuhan mulai menyempit, di mana hijab-hijab yang selama ini menghalangi perlahan tersingkap satu per satu. Puncaknya digambarkan Al-Qur’an dengan ungkapan Qaba Qawsayn: sedekat jarak dua ujung busur panah, atau bahkan lebih dekat dari itu. Kedua, bu’d yang artinya kejauhan. Ini terjadi ketika hati masih terselimuti ego, syahwat, dan keriuhan duniawi. Hati yang demikian tidak mampu melihat kehadiran Tuhan, meski Ia sebenarnya lebih dekat dari urat nadi.

Dalam obrolan tentang otomatisasi pixel ini, Mbah Nafi tiba-tiba mengutip aforisme Ibnu Atha’illah As-Sakandari:

كَيْفَ يُشْرِقُ قَلْبٌ صُوَرُ اْلأَكْوَانِ مُنْطَبِعَةٌ فِي مِرْآتِهِ؟

“Bagaimana hati bisa bersinar, kalau gambar-gambar duniawi terus menempel di cermin batinya?”

Ibnu Atha’illah mengumpamakan hati seperti cermin. Agar cermin itu bisa memantulkan cahaya Ilahi (petunjuk, kebenaran, dan makrifat) maka permukaannya harus bersih dan jernih. Tapi kalau cermin itu kotor, dipenuhi bayangan ambisi harta, haus popularitas, dan keterikatan pada makhluk, cahaya itu tidak akan pernah bisa masuk.

Begitulah jarak pandang. Ia adalah kemampuan kita untuk sesekali mundur dari objek, agar bisa melihat gambar besarnya. Masalahnya, otomatisasi pixel memaksa kita berdiri dengan jarak nol sentimeter dari layar. Notifikasi datang tiap detik. Tidak ada jeda. Tidak ada ruang untuk merenung. Kita langsung reaktif. Merespons sebelum sempat berpikir, bereaksi sebelum sempat memahami.

Kedua, sudut pandang. Sudut pandang bukan sekadar posisi mata melainkan lebih pada posisi ruhani. Dari mana seseorang berdiri ketika memandang sesuatu. Dan posisi itu, sangat menentukan apa yang bisa dan tidak bisa ia lihat.

Ada dua konsep bertali-temali di sini. Maqam dan masyhad. Maqam sebagai stasiun spiritual sedangkan masyhad adalah tempat menyaksikan. Jika maqam merujuk pada tingkatan ruhani tempat seorang penempuh jalan berpijak. Sedangkan masyhad merujuk pada sudut pandang khusus yang diperoleh seorang setelah mengalami penyingkapan ilahi. Singkatnya, semakin tinggi maqam seseorang, semakin luas dan jernih sudut pandangnya.

Lalu apa hubungannya dengan algoritma? Algoritma bekerja dengan cara yang berlawanan. Ia tidak memperluas sudut pandang. Ia mempersempitnya. Ia menciptakan apa yang kita kenal sebagai echo chamber, ruang gema di mana kita hanya melihat dan mendengar hal-hal yang sesuai dengan selera kita sendiri. Yang setuju terus dimunculkan, yang berbeda perlahan-lahan disaring keluar. Tanpa kita sadari, cara kita memandang dunia menjadi sempit, kaku, dan mudah tersulut.

Siapa yang berbeda pendapat langsung dicap musuh. Polarisasi merajalela. Padahal Syeikh Izzuddin bin Abdissalam pernah mengingatkan dengan tegas: menilai sebuah persoalan yang kompleks dari satu sudut pandang saja adalah mafsadah. Sebuah kerusakan yang nyata.

Seorang yang berdiri di satu titik tidak bisa melihat keseluruhan ruangan. Tapi ia yang bisa bergerak. Yang tidak terpaku pada satu posisi. Dan, itulah yang paling mungkin mendekati kebenaran.

Ketiga, cara pandang. Dan, inilah yang menurut Mbah Nafi’ paling mendalam. Jika dilihat dari tasawuf, cara pandang adalah instrumen atau metode bagaimana seseorang mengamati dan memahami realitas. Tasawuf tidak menggunakan cara pandang rasio belaka (‘aql), melainkan mata hati.

Ada dua konsep penting yang berkaitan dengan cara padang ini. Pertama adalah mata batin (bashirah) yang tidak lagi mengandalkan mata fisik namun mampu menembus “kulit luar” (syariat/lahiriah) untuk melihat hakikat terdalam (hakikat/batiniah) dari segala sesuatu. Kemudian, yang kedua adalah penyaksian ruhiyah (syuhud) sebagai cara pandang seseorang sufi “melihat” realitas dengan hatinya.

Lalu bagaimana otomatisasi pixel mempengaruhi cara pandang kita? Dengan cara yang paling halus dan paling berbahaya. Ia menawarkan lensa baru untuk melihat dunia dan lensa itu bersifat material. Ini yang disebut cara pandang dunia yang materialistik (materialistic worldview).

Perlahan tapi pasti, layar-layar itu menanamkan satu ukuran tunggal untuk segalanya: angka. Sukses adalah jumlah likes. Pengaruh adalah jumlah penonton. Nilai seseorang adalah aset yang bisa dipamerkan. Apapun yang tidak bisa dikuantifikasi, yang tidak bisa dijadikan konten, dan yang tidak tampak di layar, dianggap tidak nyata, tidak relevan, bahkan, tidak penting. Bagaimana dengan kejujuran? Tidak ada metricsnya. Kebijaksanaan? Tidak bisa di-screenshot. Kedalaman batin? Tidak viral.

Saya membayangkan sebuah analogi sederhana. Bayangkan kita sedang menyetir di jalanan yang ramai. Baliho di mana-mana. Lampu kota menyilaukan. Pengendara lain sibuk dengan layar di tangannya. Dalam kondisi seperti itu, kalau kita menyetir dengan wajah ditempelkan ke kaca depan, kita pasti menabrak. Kita butuh jarak. Kita butuh kaca depan yang luas agar bisa membaca jalanan jauh ke depan. Kita butuh kaca spion agar bisa melihat dari berbagai sudut. Dan, kita butuh lampu utama sebagai penerang yang menunjukkan arah jalan pulang.

Saya menafsir beberapa pernyataan Mbah Nafi’ bahwa, otomatisasi pixel ingin mengubah manusia menjadi penonton pasif yang tidak lagi bisa merenung. Solusi dari masalah ini bukan dengan menghancurkan teknologinya. Namun, mengambil kembali kendali kemudi batin.

Mbah Nafi kemudian memperkenalkan istilah “Kamera Bertauhid”. Beliau sebut sebagai sebuah cara hidup di mana ketiga instrumen navigasi batin itu dipulihkan satu per satu.

Jarak pandang diperbaiki lewat sabar dan dzikir. Memberi ruang pada batin agar tidak terus-menerus dihajar gelombang stimulus dari layar. Sudut pandang diperluas melalui tadabbur dan hikmah. Melatih diri untuk tidak melihat persoalan hanya dari satu sisi. Cara pandang dimurnikan dengan kembali ke lensa shalat yaitu melihat segala sesuatu sebagai sesuatu yang bersumber dari Allah Subhanahu wa ta’ala dan kembali kepada-Nya.

Manual book-nya? Al-Fatihah.

Setiap hari kita membaca Al-Fatihah belasan kali. Tapi sudahkah kita sungguh-sungguh menghayatinya sebagai panduan navigasi hidup dan bukan sekadar rutinitas lisan yang lewat begitu saja? Dari Alhamdu lillahi Rabbil ‘alamin sebagai titik awal kesadaran, hingga Shiratal Mustaqim sebagai penunjuk arah. Di sana, ada peta lengkap untuk menavigasi dunia yang penuh kebisingan ini.

“Kebisingan dunia adalah cara Allah Subhanahu wa ta’ala memberitahu kita betapa mahalnya harga sebuah keheningan batin.” Begitulah kira-kira pesan yang saya tangkap dari obrolan bersama Mbah Nafi’ Al-Hikam. Maka, di tengah banjir pixel ini, sungguh terasa mewah bagi seseorang yang masih bisa berdiam sejenak dan mendengar suaranya sendiri. Wallahu a’lamu.

- Cetak Buku dan PDF-

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here