Pesantren

Beberapa hari lalu, saya sowan kepada seorang kiai sepuh yang ‘alim dan wara’. Di kalangan masyarakat luas, beliau tidak hanya dihormati karena kedalaman ilmu agamanya, tetapi juga masyhur karena kemampuannya dalam dunia supranatural dan pengobatan medis-tradisional. Saya menyebutnya medis-tradisional karena setelah saya amati sebagai penikmat cerita, apa yang beliau praktikkan dan jelaskan senantiasa dapat diterima oleh akal dan sains, terutama dalam terang ilmu antropologi kesehatan.

Siang hingga sore itu, dalam perbincangan yang santai namun khidmat, di sela-sela kajian ringan ilmu tasawuf dan tauhid, beliau menceritakan asal-usul mengapa banyak orang menyebutnya sebagai “dukun”. Menariknya, beliau sama sekali tidak tersinggung. Beliau justru tersenyum tipis dan mengaku bangga dengan sebutan tersebut karena pertama kali diberikan oleh sang guru, ulama kharismatik yang kepergiannya ditangisi jutaan warga Indonesia. Sang guru pernah menyatakan, “laka dzauqun wa laka dzaka’un, tak singkat Dukun.

Kunjungan itu bukanlah yang pertama bagi saya. Selain untuk menjaga silaturahmi, saya sesekali datang mengantarkan ayah mertua. Bagi ayah saya, sowan ke ndalem beliau adalah momen emosional untuk melepas kangen dengan teman satu ghota’an (kamar pemondokan) saat mereka sama-sama mencicipi talaman serta pahit-manisnya kehidupan pesantren puluhan tahun silam.

Sore itu, dari ruang tunggu, saya memperhatikan deretan tamu yang antre menunggu giliran dipanggil. Seorang pria yang berjalan dengan bantuan alat penyangga, seorang ibu sepuh yang kesulitan mengenakan kerudung karena tangan kanannya tak bisa ditekuk, hingga sepasang muda-mudi yang berharap usaha dealer motor mereka diberi kelancaran dan keberkahan. Dari situ saya menangkap satu pola: setiap tamu pulang bukan hanya membawa jawaban yang masuk akal, tetapi juga hati yang tenang.

- Poster Iklan -

Di titik inilah saya menyadari satu hal, sebuah pembacaan pribadi yang mungkin terdengar main-main, namun saya yakini sungguh-sungguh: predikat “dukun” yang melekat pada sang kiai, lengkap dengan cerita asal-usulnya, sebenarnya dapat dibaca sebagai gema dari dua kata Arab yang menyatu. Pertama, Dzauqun (ذَوْق), yang dalam bahasa Inggris disebut sense, intuition, atau taste. Kedua, Dzakaun (ذَكَاء), yang padanannya adalah intelligence, sharpness of mind, atau keenness. Santri itu dukun: perpaduan antara kepekaan rasa dan ketajaman rasio. 

Membedah Anatomi “Dukun” Pesantren

Dalam tradisi intelektual Islam, santri tidak pernah dicetak untuk menjadi manusia berat sebelah. Pesantren adalah laboratorium yang mengawinkan dua sirkuit utama manusia: akal dan hati.

Komponen pertama adalah dzauq (rasa atau intuisi). Ini adalah dimensi spiritualitas, empati, dan kepekaan batin. Melalui laku tirakat, wirid, dan pengabdian (khidmah) kepada guru, santri diajarkan untuk “merasakan” kebenaran, bukan sekadar menghitungnya secara matematis. Dzauq inilah yang membuat seorang santri mampu membaca situasi makro maupun mikro secara intuitif, memahami penderitaan sesama, dan memiliki spiritual quotientyang matang.

Namun, kepekaan rasa saja berisiko melahirkan manusia yang lembut hati tetapi rapuh nalar. Di sinilah komponen kedua masuk: dzaka’ (kecerdasan atau ketajaman berpikir). Di pesantren, kecerdasan tidak diukur dari angka-angka kaku di atas selembar ijazah, melainkan diuji setiap hari saat santri menguliti teks-teks klasik (kitab kuning) yang gundul tanpa syakl (harakat), menganalisis struktur bahasa yang rumit, hingga beradu argumen secara ketat dalam forum-forum bahtsul masa’il. Proses ini menuntut logika yang presisi, kemampuan problem solving yang cepat, dan ketajaman mental dalam membedah realitas sosial dan hukum.

Ketika dzauq dan dzaka’ ini menyatu, sebuah konvergensi yang menurut saya tidak instan, lahirlah manusia paripurna. Jika seseorang hanya memiliki dzaka’ tanpa dzauq, ia akan tumbuh menjadi intelektual yang kaku, tekstualis, bahkan ekstrem dan radikal karena kehilangan empati kemanusiaan. Sebaliknya, jika hanya mengandalkan dzauq tanpa dzaka’, seseorang akan terjebak dalam mistisisme naif dan kepasrahan yang buta. Santri sejati berdiri di titik temu keduanya.

Alkimia Jiwa: Enam Pilar Transformasi

Proses penyatuan rasa dan rasio ini bukanlah sulap semalam. Ia melintasi proses yang disebut “alkimia jiwa” yang amat panjang, setapak demi setapak, sebagaimana diabadikan dalam bait syair legendaris tentang enam syarat menuntut ilmu:

ذُكَاءٍ وَحِرْصٍ وَاصْطِبَارٍ وَبُلْغَةٍ # وَاِرْشَادُ اُسْتَاذٍ وَطُوْلِ زَمَانٍ

Cerdas, semangat, sabar, biaya, petunjuk ustadz, dan lama waktunya.

Perlu dicatat, urutan dalam syair ini mendahulukan dzaka’ (kecerdasan) sebagai pijakan pertama. Berbeda dari uraian anatomi di atas yang mendahulukan dzauq. Ini wajar, sebab syair aslinya memang disusun dengan tekanan pada proses belajar formal, sementara kerangka “dukun” dalam tulisan ini menekankan keseimbangan akhir dari kedua unsur tersebut. Berikut enam pilar yang menjadi blueprint bagaimana identitas “dukun” (dzauqun wa dzaka’un) itu ditempa.

Pertama, Dzaka’un (kecerdasan dasar), dan kedua, Hirshun (semangat, rasa lapar akan ilmu). Kecerdasan bawaan tidak akan menjadi apa-apa tanpa adanya ambisi positif untuk terus belajar dan melampaui batas kemampuan diri. Inilah yang membuat santri rela bangun sebelum subuh hanya untuk mengulang hafalan nadhamnya sendiri.

Ketiga, Isthibarun (kesabaran), dan keempat, Bulghatun (biaya atau bekal). Menyatukan hati dan otak membutuhkan ketahanan mental yang luar biasa untuk menghadapi kerasnya kehidupan pesantren. Sebut saya antre kamar mandi, makan talamanseadanya, tidur berdesakan, dan aktivitas keseharian santri di pesantren. Kesabaran ini berkelindan dengan bulghatun, yakni pengorbanan materi, baik dari orang tua maupun keikhlasan santri hidup dalam kesahajaan.

Kelima, Irsyadu Ustadzin (petunjuk guru). Ini adalah variabel yang paling krusial. Tanpa bimbingan seorang kiai yang memiliki sanad keilmuan jelas, ketajaman berpikir (dzaka’) bisa tergelincir menjadi kesombongan intelektual, dan kepekaan rasa (dzauq) bisa tersesat menjadi delusi spiritual. Guru adalah kompas moral sekaligus jangkar realitas.

Keenam, Thulu Zaman (waktu yang lama). Proses menumbuhkan intuisi dan intelektualitas tidak mengenal kepuasan instan (instant gratification). Diperlukan waktu bertahun-tahun di dalam bilik pondok, menghabiskan ribuan malam untuk bermunajat dan mengaji, hingga formula dzauq dan dzaka’ itu benar-benar meresap ke dalam sumsum tulang belakang sang santri.

Oase di Era Kecerdasan Buatan

Di era digital hari ini, ketika kecerdasan buatan (artificial intelligence) mampu menggantikan peran dzaka’ (kecerdasan logis) manusia dalam hitungan detik, dunia justru sedang mengalami krisis eksistensial yang akut. Informasi melimpah ruah, namun kebijaksanaan kian langka. Manusia modern pintar berhitung, tetapi gagap dalam merasa. Sebuah mesin bisa mendiagnosis penyakit dari data, tetapi tidak bisa duduk berlama-lama mendengarkan keluh seorang ibu yang cemas akan anaknya.

Di sinilah relevansi konsep “dukun” pesantren menemukan panggungnya. Santri yang berhasil melampaui enam syarat dalam syair di atas akan tampil sebagai figur yang tidak mudah goyah oleh disrupsi zaman. Mereka adalah agen perubahan yang responsif secara intelektual, adaptif terhadap teknologi, namun tetap membumi, teduh, dan sarat akan nurani spiritual.

Kiai sepuh yang saya kunjungi adalah bukti hidup dari konsep ini. Kemampuan “supranatural” beliau, jika dibedah dengan antropologi kesehatan, sejatinya adalah pancaran dari dzauq yang mampu membaca kondisi psikologis dan spiritual pasien, yang kemudian dicarikan solusinya secara logis melalui dzaka’ yang bersumber dari khazanah thibbun nabawi dan kearifan lokal. Di sanalah saya akhirnya memahami mengapa deretan tamu itu pulang bukan hanya dengan jawaban, tetapi juga dengan ketenangan.

Santri itu memang dukun: dzauqun wa dzaka’un. Sebuah sintesis agung antara ketajaman berpikir dan kelembutan hati yang lahir dari rahim pesantren, siap menjadi penyembuh bagi luka-luka peradaban modern. Wallahu a’lamu bish-shawab.

- Cetak Buku dan PDF-

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here