Belum selesai hiruk-pikuk soal kekerasan seksual di salah satu pesantren di Pati, Jawa Tengah, dunia maya sudah bergolak dengan isu baru: seorang anggota legislatif dari keluarga inti pesantren, yang kerap disapa Gus atau Lora, dinilai tidak etis karena bermain gim dan merokok saat rapat resmi di gedung DPRD. Dua kejadian yang berbeda, dua waktu yang berdekatan. Namun efeknya serupa: pesantren, sekali lagi, berada di bawah lampu sorot.
Yang menarik bukan hanya insiden itu sendiri, melainkan respons yang menyertainya. Di media sosial, arus diskusi dengan cepat melebar: dari perilaku seorang individu, menyentuh relasi kuasa-spiritual di lingkungan pesantren, hingga mempertanyakan budaya diam yang selama ini menjadi salah satu ciri khas tradisi kiai-santri. Ada yang membela habis-habisan. Bahkan, dengan argumen bahwa sang Gus memiliki “kelebihan indrawi” sehingga bisa fokus meski tampak tidak hadir. Ada pula yang menghakimi seluruh tradisi pesantren hanya berdasarkan ulah segelintir orang.
Ruang digital memang begitu: opini bertabrakan, emosi mendahului nalar, dan kebisingan menguasai panggung. Dalam situasi seperti ini, muncul pertanyaan yang sesungguhnya lebih penting dari sekadar membahas insiden itu sendiri: apakah pesantren masih mampu hadir sebagai voice yaitu suara yang jernih, bermakna, dan bisa dipercaya, atau justru ikut tenggelam dalam noise yang gaduh dan emosional?
Santri selama ini dikenal sebagai penjaga khazanah klasik: kitab kuning, tradisi talaqqi, dan adab dalam menuntut ilmu. Di balik fondasi itu bukan hanya tersimpan pengetahuan, tetapi juga cara berpikir. Cara memahami realitas dengan sabar, teliti, dan jujur secara intelektual. Proses belajar di pesantren melatih apa yang dalam tradisi Islam disebut tabayyun (klarifikasi sebelum menerima informasi), tahqiq (pendalaman hingga akar), dan tadabbur (perenungan atas makna). Tiga disposisi ini, jika dipelihara, adalah modal epistemologis yang tidak bisa dengan mudah digantikan oleh mesin apa pun.
Namun kini fondasi itu dihadapkan pada dunia yang bergerak dengan logika berbeda: cepat, instan, dan sering kali dangkal. Algoritma media sosial tidak menimbang kedalaman—ia mengukur atensi. Apa yang memancing reaksi emosional, itulah yang didistribusikan. Apa yang viral, itulah yang dianggap penting. Dalam ekosistem seperti itu, suara yang tenang dan bernuansa sering kalah oleh konten provokatif dan sensasional. Santri yang terbiasa berpikir dengan pelan dan hati-hati bisa terpinggirkan. Bukan karena tidak mampu, tetapi karena tidak terbiasa bermain dalam sistem yang menghadiahi reaksi, bukan refleksi.
Kecerdasan buatan menambah lapisan tantangan yang lebih halus. Ia bisa merangkum kitab, menjawab pertanyaan keagamaan, bahkan mensimulasi penalaran. Hal-hal yang dulu membutuhkan bertahun-tahun untuk dipahami kini bisa diakses dalam hitungan detik. Ini bukan ancaman untuk ditakuti, melainkan kenyataan yang perlu disikapi dengan jernih: kemudahan akses informasi tidak sama dengan kedalaman pemahaman. Dan, di situlah santri masih memiliki keunggulan yang tidak bisa dikompilasi oleh mesin. Bukan sekadar pengetahuan tentang “apa”, tetapi pemahaman tentang “mengapa” dan “bagaimana dalam konteks”. Bukan jawaban yang cepat, tetapi penilaian yang matang.
Ada analogi yang berguna untuk memahami tantangan ini. Dalam dunia rekayasa sinyal, transistor berfungsi sebagai penyaring sekaligus penguat. Ia menentukan mana sinyal yang layak diteruskan dan mana yang harus dibuang sebagai gangguan. Dalam kehidupan manusia, peran itu tidak bisa diserahkan ke mesin. Ia harus diemban oleh diri kita sendiri, oleh nalar dan nilai yang kita bangun.
Noise adalah banyak bicara tanpa arah. Ia keras, tetapi kosong. Ia viral, tetapi dangkal. Di dunia digital, noise sangat mudah diproduksi. Bahkan sering kali lebih populer daripada yang bernilai. Sebaliknya, voice adalah suara yang memiliki dasar, makna, dan arah. Ia tidak harus keras, tetapi jelas. Ia tidak harus viral, tetapi berdampak. Ia tidak harus paling cepat, tetapi paling bisa dipercaya.
Santri, terutama generasi yang kini hidup di dua dunia sekaligus, dunia tradisi pesantren dan dunia digital, memiliki potensi besar untuk menjadi transistor yang efektif: menyaring apa yang masuk, mengolahnya dengan standar epistemologis yang telah terlatih, lalu menghasilkan voice yang bermakna. Kemampuan ini bukan warisan pasif; ia harus diaktifkan secara sadar.
Memiliki kedalaman keilmuan adalah satu hal. Mampu menyuarakannya di ruang publik adalah hal lain. Santri tidak bisa lagi hanya hadir di ruang-ruang terbatas. Mereka perlu hadir di ruang digital. Bukan untuk ikut-ikutan gaduh, bukan untuk menyaingi kebisingan dengan kebisingan, tetapi untuk menghadirkan kejernihan yang memang sedang langka.
Ini menuntut keterampilan yang tidak selalu diajarkan di pesantren secara eksplisit: menulis untuk pembaca umum, berbicara di depan publik yang beragam, membuat konten yang bisa dipahami tanpa kehilangan substansi, dan memahami cara kerja media—bagaimana pesan dikemas dan dikonsumsi. Keterampilan ini bukan hiasan tambahan; ia adalah infrastruktur untuk menyampaikan apa yang sudah dimiliki.
Yang tidak boleh hilang dalam proses itu adalah adab. Cara berbicara yang santun, cara menyampaikan tanpa merendahkan, dan sikap yang tidak merasa paling benar. Inilah yang membedakan voice dari noise yang hanya berganti topik. Adab bukan kelemahan retoris; dalam dunia yang jenuh dengan kesombongan intelektual dan polarisasi, adab adalah kekuatan yang langka dan justru semakin dibutuhkan.
Tradisi tidak perlu ditinggalkan. Ia perlu diterjemahkan. Kitab klasik tidak usang; nilai-nilai di dalamnya perlu disampaikan dalam bahasa dan format yang bisa dicerna generasi sekarang. Bukan penyederhanaan yang mengorbankan kedalaman, melainkan penerjemahan yang menjaga esensi sambil membuka akses.
Dunia tidak akan pernah sepi. Suara akan terus bertambah, algoritma akan terus berkembang, dan tekanan untuk bersikap reaktif tidak akan berkurang. Tantangannya bukan menghindari kebisingan, melainkan memilih secara sadar menjadi apa di tengahnya.
Bagi santri, pilihan itu bukan sekadar urusan personal. Ia adalah pertanyaan tentang peran. Pesantren selama berabad-abad telah menjadi lembaga yang menjaga kejernihan berpikir di tengah berbagai guncangan zaman. Tugas itu tidak berakhir hanya karena zamannya berganti. Justru di sinilah relevansinya diuji ulang.
Menjadi voice bukan berarti menjadi yang paling lantang. Melainkan menjadi yang paling layak didengar karena berakar pada ilmu, karena berpijak pada nilai, dan karena disampaikan dengan cara yang menghormati orang yang mendengarkan. Itu adalah warisan pesantren yang paling berharga. Dan, yang dibutuhkan sekarang bukan sekadar menjaganya dalam lemari arsip, tetapi menghidupkannya kembali. Dengan cara yang relevan, bermakna, dan didengar. Wallahu a’lam.




















