Ada malam-malam yang berat tanpa alasan yang jelas. Sebuah pertanyaan kecil mengetuk diam-diam dari sudut dada: kenapa aku tidak dilahirkan dengan sesuatu yang lebih? Lebih tampan, lebih kaya, atau sekadar lebih beruntung dari orang-orang yang sepertinya lahir dengan angin di punggung mereka.
Pertanyaan itu bukan milik satu orang. Ia sudah lama beredar, jauh sebelum media sosial mengajari kita cara membandingkan diri dalam hitungan detik. Dan di luar sana, dunia bergerak dengan standar yang sangat berisik. Salah satu politisi Senayan favorit saya, Bambang Pacul, pernah berkata dengan nada dingin namun jujur: “Kalau tidak punya jabatan, harus punya uang. Kalau tidak punya uang, harus pintar. Kalau tidak punya ketiganya? Tidak akan dihargai.” Setuju atau tidak, banyak dari kita, diam-diam, mengangguk.
Secara sosiologis, ada tiga hal yang membuat seseorang dianggap ada: jabatan, kekayaan, dan kecerdasan. Ketika ketiganya berpadu, seolah dunia terbuka lebar. Sebaliknya, bagi mereka yang berdiri di luar lingkar istimewa itu, hidup terasa begitu diskriminatif. Dan pada titik paling nadir, muncul dorongan untuk berontak. Untuk marah kepada sesuatu. Tapi kepada siapa? Pertanyaan itu mengambang lama, sampai satu waktu saya menemukan sebuah buku yang tidak menjawabnya secara langsung, tapi membuka cara lain untuk memandangnya.
Dari kegelisahan itulah buku Seni Mencintai Takdir karya Syaiful Alim masuk seperti cermin. Jujur. Bahkan, bisa jadi terlalu jujur hingga kita nyaman membacanya, namun sulit mengabaikannya.
Buku itu membedah apa yang ia sebut beauty privilege, keistimewaan yang lahir dari penampilan fisik. Syaiful Alim menunjukkan bagaimana wajah yang rupawan kerap menjadi kunci kemudahan. Lebih mudah diterima kerja, lebih cepat viral, bahkan lebih mudah mendapat simpati. Sejumlah studi psikologi sosial, semisal penelitian Daniel Hamermesh dalam Beauty Pays (2011), mendokumentasikan keuntungan finansial dan akademis nyata bagi mereka yang secara visual dianggap menarik. Fakta itu mungkin pahit, tapi sulit dibantah.
Syaiful Alim juga memotret sesuatu yang kita semua diam-diam tahu: dunia memberikan hadiah kepada mereka yang lahir dalam kondisi tertentu. Yang rupawan lebih mudah diterima. Yang dari keluarga terpandang lebih cepat dikagumi. Yang kaya lebih lekas dihormati. Saya membaca kalimat itu dan seketika diam. Bukan karena asing, melainkan karena terlalu akrab.
Menariknya, buku ini tidak berhenti di keluhan. Justru, membuka pintu ke pertanyaan yang lebih dalam: lalu, apa yang akan kamu lakukan dengan apa yang kamu punya?
Pertanyaan itulah yang menghubungkan buku Syaiful Alim dengan sesuatu yang jauh lebih dulu saya kenal bernama dunia pesantren. Sebab jika beauty privilege adalah soal keistimewaan yang tidak bisa dipilih, maka pesantren adalah tempat pertama saya belajar bahwa ada cara lain untuk berdiri di dunia selain mengandalkan keistimewaan itu.
Pesantren mengajarkan sesuatu yang tidak tertulis di kitab manapun, namun dihidupkan setiap hari melalui cara bermukim dan cara bertahan. Saya masih ingat bau kain sarung yang lembap setelah hujan, suara kentongan subuh yang membangunkan sebelum fajar, dan langkah-langkah sandal jepit di atas tanah basah menuju sumur. Santri datang dari berbagai latar. Ada yang anak kiai besar, ada yang anak petani, ada anak buruh bangunan, dan ada pula pedagang pasar. Ada yang wajahnya bersih bersinar, ada yang jerawatan dan tidak percaya diri. Ada yang sekali baca langsung hafal, ada yang harus mengulang puluhan kali. Ada yang makannya banyak karena postur tubuhnya memang membutuhkan lebih banyak asupan. Ada pula yang makannya sangat sedikit. Tapi di bawah satu atap yang sama. Sarung yang modelnya tak jauh beda, antrean ambil makan dan mandi yang sama panjangnya. Semua perbedaan itu perlahan kehilangan taringnya.
Bukan karena pesantren menyangkal realitas. Menurut saya justru sebaliknya. Pesantren melatih kita melihat realitas dengan mata yang berbeda.
Ada ungkapan yang sering saya dengar dari para kiai pesantren, “Sing penting ora kufur nikmat.” Yang penting tidak kufur nikmat. Kalimat sederhana yang menyimpan kedalaman luar biasa. Bukan ajakan untuk pasif. Namun, undangan untuk menggeser pusat gravitasi hidup dari apa yang belum dimiliki, ke apa yang sudah ada. Mengenai ini saya teringat dawuh bahwa hidup itu isinya hanya dua, sabar dan syukur. Sudah, itu saja, dawuh Gus Baha (KH Ahmad Bahauddin Nursalim).
Filsuf Jerman Friedrich Nietzsche punya konsep yang ia sebut amor fati: cinta kepada takdir. Bukan sekadar menerima, tapi benar-benar mencintai segala sesuatu yang terjadi, termasuk yang menyakitkan. Nietzsche menulis dalam The Gay Science: “Saya ingin belajar lebih banyak untuk melihat apa yang perlu terjadi pada segala sesuatu sebagai sesuatu yang indah.” (aforisme §276). Meski konsep ini kemudian dirumuskan lebih eksplisit dalam Ecce Homo, gagasannya sudah hidup di sini. Sekilas terdengar naif, bahkan arogan, seolah rasa sakit bisa begitu saja diubah menjadi cinta. Tapi amor fati sebenarnya berbeda dari sekadar keikhlasan pasif. Ia adalah latihan aktif untuk tidak membiarkan keadaan yang tidak bisa diubah menghancurkan kapasitas kita untuk terus hidup dan bergerak.
Para kiai menyebutnya ridho. Dan ridho bukan berarti diam saja. Konsepnya sederhana: tuhan tidak pernah salah alamat. Kalimat itu yang kemudian saya pahami sebagai inti dari ridho. Sebuah kondisi batin yang tidak mudah retak ketika dunia berjalan tidak sesuai harapan, kapasitas untuk tetap bergerak dan berikhtiar tanpa membawa beban amarah kepada takdir yang tidak bisa diubah. Dalam tradisi tasawuf, ridho bahkan disebut salah satu maqam tertinggi yang bisa dicapai seorang hamba.
Pada titik inilah amor fati dan ridho bertemu, meski lahir dari tradisi yang berbeda. Tentu, ada yang mungkin keberatan dengan perbandingan ini—Nietzsche dan kiai pesantren berdiri di dua semesta yang sangat berbeda. Dan keberatan itu sah. Nietzsche berbicara dari kerangka filsafat Barat yang tidak mengenal Tuhan dalam arti teologis. Ia mendorong manusia untuk menemukan makna dari dalam dirinya sendiri. Sementara ridho dalam tradisi tasawuf justru berpijak pada keyakinan bahwa ada yang mengetahui, ada yang mengatur, ada yang tidak pernah keliru. Namun ada titik temu keduanya yakni sama-sama menolak bahwa ketidakberdayaan atas takdir harus berakhir pada kehancuran jiwa.
Saya teringat cerita tentang seorang santri senior. Ia bukan dari keluarga kaya. Wajahnya biasa saja. Saat di pesantren, tidak pernah juara lomba apapun. Tetapi ia dikenal tekun, rajin, sungguh-sungguh, dan tidak pernah melewatkan satu pun kesempatan untuk terus belajar. Bertahun-tahun kemudian, masyarakat paling banyak istifadah -menerima manfaat- darinya. Terutama yang berkaitan dengan ilmu. Menurut saya, bukan karena takdirnya yang berubah dramatis. Bisa jadi, ia tetap bukan siapa-siapa di mata dunia yang mengukur dengan jabatan dan harta. Tetapi, ia memilih menumbuhkan sesuatu dari tanah yang ada. Dan tanah itu, ternyata, tidak pernah benar-benar gersang.
Itulah yang dimaksud “seni” dalam mencintai takdir. Bukan sulap. Bukan juga penyangkalan atas ketimpangan yang nyata. Tapi sebuah keterampilan hidup yang dilatih perlahan: bagaimana melihat benih di tanah yang tampak gersang, bagaimana merawatnya dengan sabar, bagaimana tidak membandingkan pohon yang tumbuh dari benih yang berbeda.
Syaiful Alim, dalam bukunya, seperti sedang mengajak kita ke titik kesadaran itu. Ia tidak menutup mata terhadap beauty privilege dan segala bentuk ketimpangan sosial yang nyata. Tapi ia juga tidak membiarkan pembaca tenggelam di sana. Ketidakadilan diakui, lalu diajak melangkah.
Kita boleh lelah. Kita boleh sedih ketika dunia tampak tidak adil. Kita boleh marah sejenak kepada keadaan yang tidak kita pilih. Tapi kemudian, kita bangun, kita melangkah lagi.
Saat di pesantren dulu, saya belajar bahwa takdir bukan sesuatu yang harus dilawan habis-habisan. Bukan pula sesuatu yang dipeluk sambil menangis pasrah. Takdir adalah medan tempat kita berlatih menjadi manusia. Dan justru medan yang berat itulah yang melahirkan otot-otot jiwa yang kuat. Sebab mencintai takdir bukan berarti menyukai segala rasa sakitnya. Mencintai takdir adalah meyakini bahwa di balik setiap yang terjadi, ada tangan yang tidak pernah keliru. Dan keyakinan itu, pelan-pelan, mengubah cara kita berjalan di dunia ini. Wallahu a’lam.



















