hening

Tepat pukul tiga belas di hari selasa minggu pertama bulan Juli, saya mengantarkan anak-anak ke pangkalan travel yang akan membawa mereka ke kota budaya Yogyakarta. Perjalanan anak-anak kali ini bukanlah untuk bertamasya, melainkan perjalanan untuk memulai hidupnya yang baru, yaitu melanjutkan sekolah di kota yang jaraknya kurang lebih empat ratusan kilo meter dari kota tempat kami tinggal.

Perjalanan ini akan memberikan suasana baru bagi kami. Perginya anak-anak untuk melanjutkan pendidikan membuat hening sejenak dalam interaksi sehari-hari di dalam keluarga. Dalam setiap masa kehidupan manusia atau sebuah keluarga tentu ada waktu bersama dan ada waktu untuk berpisah satu dengan yang lainnya. Dalam kehidupan keluarga tentu ada satu waktu yang hampir dapat dipastikan bahwa setiap keluarga ada seorang anak yang akan melangkahkan kaki meninggalkan rumah untuk menuntut ilmu. Maka, sejak saat itu, rumah yang semula dipenuhi tawa dan percakapan perlahan berubah menjadi ruang yang hening. Sepi itu bukan pertanda kehilangan, melainkan harga yang harus dibayar oleh setiap keluarga yang meyakini bahwa ilmu pengetahuan adalah jalan menuju kemuliaan. Kepergian anak dari rumah bukan sekadar perpindahan tempat belajar, tetapi awal dari perjalanan panjang untuk membentuk dirinya menjadi manusia yang berpengetahuan, beradab, dan berintegritas.

Namun, perjalanan menuntut ilmu sesungguhnya tidak dimulai ketika anak memasuki gerbang sekolah atau perguruan tinggi. Ia telah dimulai sejak lama, yakni di dalam rumah. Hingga kini tidak ada mendebat bahwa keluarga adalah institusi pendidikan pertama yang membentuk cara berpikir, cara bersikap, dan cara memandang kehidupan.

Syed Muhammad Naquib al-Attas memberikan landasan yang sangat penting dalam memahami hakikat pendidikan. Menurutnya, pendidikan bukan semata-mata menghasilkan manusia yang terampil atau cerdas secara intelektual, melainkan melahirkan manusia yang beradab (insan adabi). Baginya, krisis terbesar masyarakat modern bukanlah kekurangan ilmu, melainkan loss of adab atau hilangnya adab. Ketika adab hilang, ilmu kehilangan arah, kekuasaan kehilangan moralitas, dan kecerdasan berubah menjadi alat untuk membenarkan kepentingan pribadi.

- Poster Iklan -

Pandangan ini sejalan dengan Ki Hajar Dewantara yang menegaskan bahwa pendidikan merupakan upaya menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak agar mereka mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Pendidikan tidak berhenti pada keberhasilan akademik, tetapi harus membentuk budi pekerti.

REKOMENDASI BUKU

Paulo Freire juga mengingatkan bahwa pendidikan tidak boleh sekadar menjadi proses memindahkan informasi dari guru kepada murid. Pendidikan harus membebaskan manusia dari kebodohan, ketidakadilan, dan penindasan. Melalui pendidikan yang kritis, seseorang diajak membaca dunia, bukan hanya membaca buku. Dengan demikian, ilmu pengetahuan harus melahirkan kesadaran sosial, keberanian berpihak kepada kebenaran, dan tanggung jawab untuk memperbaiki kehidupan bersama. Pendidikan yang hanya menghasilkan tenaga kerja tanpa kesadaran moral dan sosial pada akhirnya gagal menjalankan fungsi kemanusiaannya.

Di samping ilmu dan adab, keluarga juga harus menanamkan integritas. Integritas adalah keselarasan antara pikiran, ucapan, dan tindakan. Ia tampak ketika seseorang tetap jujur meskipun tidak diawasi, tetap adil ketika memiliki kekuasaan, dan tetap memegang amanah ketika kesempatan untuk menyimpang terbuka lebar. Integritas tidak dibangun dalam ruang kuliah atau ruang rapat semata, tetapi tumbuh dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang diajarkan di dalam rumah. Karena itulah keluarga sesungguhnya merupakan fondasi utama lahirnya masyarakat yang berkeadaban.

Ketika anak akhirnya kembali ke tengah masyarakat sebagai warga negara, ukuran keberhasilannya bukan hanya gelar yang disandang atau jabatan yang diraih. Ia diukur dari kemampuannya menjadikan ilmu sebagai jalan pengabdian, akhlak sebagai identitas diri, dan integritas sebagai prinsip hidup. Bangsa tidak pernah kekurangan orang pintar, tetapi sering kali kekurangan orang yang mampu menjaga amanah. Di sinilah relevansi pendidikan keluarga untuk membentuk manusia yang tidak hanya cerdas dalam berpikir, mempunyai integritas dalam bertindak, dan bijaksana dalam menggunakan kekuasaan.

Luthfi J. Kurniawan

Maka, sepi yang hadir ketika anak meninggalkan rumah bukanlah kesunyian yang sia-sia. Sepi adalah ruang tempat orang tua menggantungkan doa, sementara anak menggantungkan cita-cita. Sepi adalah saksi bahwa sebuah keluarga sedang mengirimkan harapan terbaiknya kepada masa depan. Sebab, peradaban tidak dibangun oleh manusia yang sekadar menguasai ilmu pengetahuan, melainkan oleh manusia yang menjadikan ilmu sebagai cahaya, adab sebagai martabat, dan integritas sebagai kehormatan.

Bourdieu juga memperkenalkan konsep habitus, yaitu seperangkat disposisi yang terbentuk melalui pengalaman hidup sehari-hari dan kemudian menjadi cara seseorang berpikir, bersikap, serta bertindak. Habitus tidak lahir secara tiba-tiba, melainkan dibentuk secara perlahan melalui lingkungan keluarga. Oleh sebab itu, pendidikan keluarga sesungguhnya merupakan proses pembentukan habitus yang akan melekat sepanjang kehidupan. Ketika seorang anak dibiasakan menghormati orang lain, berkata jujur, menghargai waktu, mencintai ilmu, dan bertanggung jawab atas setiap amanah, sesungguhnya kita sedang membangun habitus yang akan menjelma menjadi karakter. Sebaliknya, apabila keluarga gagal menanamkan nilai-nilai tersebut, maka masyarakat akan menuai generasi yang mungkin cerdas secara akademik, tetapi rapuh secara moral.

Dengan demikian, apa yang disampaikan oleh al-Attas tentang adab, Ki Hajar Dewantara tentang budi pekerti, dan Freire tentang pendidikan yang membebaskan, serta Bourdieu tentang modal budaya dan habitus yang kemudian bertemu pada satu kesimpulan yang sama yaitu keluarga adalah fondasi utama peradaban. Sekolah atau universitas adalah medium untuk memperluas cakrawala pengetahuan. Namun, rumah adalah tempat pertama manusia belajar menjadi manusia. Dari sanalah lahir warga negara yang bukan hanya memiliki kecerdasan intelektual, melainkan juga akhlak yang luhur, kesadaran sosial, dan integritas untuk menjaga kehidupan bersama yang dihasilkan oleh madrasatul ula di rumah keluarga. Semoga…

- Cetak Buku dan PDF-

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here